Pernyataan kontroversial, "kalau
ingin kaya, jangan jadi guru atau dosen, jadi pengusaha saja," memicu
beragam reaksi. Pernyataan ini bukan hanya layak dikaji dari sisi nilai-nilai
keagamaan, tetapi juga dari sudut pandang realitas ekonomi yang dihadapi oleh
para pendidik di Indonesia.
1. Pendidikan dan Rezeki dalam
Pandangan Islam
Dalam Islam, pendidikan dan ilmu
pengetahuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Wahyu pertama yang
diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca, yang menekankan
pentingnya menuntut ilmu. Al-Qur'an dan Hadis banyak mengupas tentang kemuliaan
orang-orang yang berilmu.
Al-Qur'an
Surat Al-Mujadalah ayat 11:
"Niscaya Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat."
Ayat ini secara eksplisit menunjukkan
bahwa ilmu merupakan salah satu faktor utama yang mengangkat derajat seseorang.
Para guru dan dosen, sebagai penyampai dan pengembang ilmu, memiliki kedudukan
mulia. Bahkan, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Para ulama (ahli ilmu) adalah
pewaris para nabi," yang menegaskan posisi mereka dalam melanjutkan misi
kenabian.
Terkait rezeki dan kekayaan, Islam
mengajarkan bahwa rezeki adalah hak prerogatif Allah SWT. Kekayaan sejati tidak
diukur dari banyaknya harta, melainkan dari keberkahan dan ketenangan jiwa.
Hadis
Nabi Muhammad SAW:
"Bukanlah kekayaan itu karena
banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan
jiwa."
Pernyataan Menteri Agama yang
menyamakan kekayaan dengan profesi pedagang dan mengesampingkan kekayaan dari
profesi guru berpotensi mereduksi makna profesi ini. Padahal, kekayaan yang diperoleh
guru jauh lebih berharga, yaitu pahala jariyah dari ilmu yang bermanfaat.
Pahala ini tidak akan pernah putus, bahkan setelah mereka meninggal dunia,
sejalan dengan konsep ilmun yuntafa’u bih.
2. Realitas Ekonomi: Kesenjangan Gaji
Guru di Indonesia dan Asia Tenggara
Pernyataan Menteri Agama dapat dilihat
sebagai refleksi dari realitas ekonomi yang pahit bagi sebagian besar pendidik
di Indonesia. Kesenjangan gaji menjadi isu nasional, terutama bagi guru yang
berstatus non-PNS atau honorer. Banyak dari mereka menerima gaji yang sangat
minim, bahkan hanya ratusan ribu rupiah per bulan, yang memaksa mereka mencari
penghasilan tambahan.
Gaji guru PNS, meskipun lebih stabil,
seringkali dianggap tidak sebanding dengan beban kerja mereka. Untuk memberikan
gambaran yang lebih jelas, mari bandingkan gaji guru di Indonesia dengan
negara-negara tetangga di Asia Tenggara, yang dikonversi ke Rupiah.
|
Negara |
Gaji
Rata-rata Bulanan (Rupiah) |
Keterangan |
|
Singapura |
Rp51
juta - Rp125 juta |
Gaji
guru sangat tinggi, mencerminkan komitmen pemerintah terhadap pendidikan
berkualitas. |
|
Brunei
Darussalam |
Rp24,2
juta |
Profesi
guru dihargai secara finansial, menjadikannya salah satu profesi yang paling
diidamkan. |
|
Malaysia |
Rp7,7
juta - Rp25 juta |
Gaji
bervariasi tergantung kualifikasi dan pengalaman. |
|
Thailand |
Rp12,2
juta - Rp22 juta |
Gaji
guru terbilang kompetitif, terutama di kota-kota besar. |
|
Indonesia |
Rp1,6
juta - Rp14,5 juta |
Rata-rata
gaji guru PNS. Gaji guru honorer jauh di bawah angka ini. |
Catatan:
Data di atas adalah perkiraan dan dapat bervariasi.
Perbandingan ini menunjukkan disparitas
gaji yang sangat besar. Indonesia berada di urutan terbawah di antara
negara-negara ASEAN. Gaji guru di Singapura bahkan bisa mencapai 30 kali lipat
gaji guru honorer di Indonesia, menunjukkan bahwa profesi ini dihargai secara
finansial di negara maju.
3. Kesimpulan: Antara Retorika dan
Tantangan Kebijakan
Pernyataan Menteri Agama, meskipun
kontroversial, secara tidak langsung menyoroti masalah kesejahteraan guru yang
sudah lama menjadi perhatian. Kesenjangan gaji antara guru di Indonesia dan
negara lain menciptakan situasi di mana profesi guru kurang menarik secara
finansial.
Dalam konteks pandangan Islam, meskipun
kekayaan bukan satu-satunya tujuan, Islam juga menganjurkan agar umatnya
bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak (kasb thoyyib).
Gaji guru yang rendah dapat menjadi hambatan bagi mereka untuk memenuhi
kebutuhan hidup secara layak dan fokus pada pengabdian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar