Minggu, 05 Oktober 2025

Contoh Modul Ajar Bahasa Arab Integrasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta

 

Pengembangan modul ajar Bahasa Arab dengan pendekatan Deep Learning dan Kurikulum Perbasis Cinta sebagai inovasi dalam pembelajaran di madrasah. Melalui integrasi dua pendekatan tersebut, diharapkan proses belajar Bahasa Arab tidak hanya menekankan pada aspek kognitif, tetapi juga membangun karakter, empati, serta kesadaran spiritual peserta didik. Modul ini dirancang untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyentuh hati, dan menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, bahasa Arab, serta nilai-nilai Islam.

Perkembangan pendidikan abad ke-21 menuntut adanya inovasi dalam pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan spiritualitas. Pembelajaran Bahasa Arab di madrasah sering kali menghadapi tantangan berupa rendahnya motivasi belajar peserta didik karena dianggap sulit dan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, diperlukan suatu rancangan pembelajaran yang mampu menggugah rasa ingin tahu, membangun hubungan emosional antara guru dan peserta didik, serta mengaktifkan proses berpikir mendalam. Pendekatan Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi fondasi penting dalam pengembangan modul ajar Bahasa Arab yang holistik dan transformatif.

Konsep Deep Learning dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Deep Learning dalam konteks pendidikan bukanlah teknologi kecerdasan buatan, tetapi pendekatan pedagogis yang menekankan pada pemahaman konseptual, refleksi, dan penerapan pengetahuan secara bermakna. Dalam pembelajaran Bahasa Arab, pendekatan ini dapat diwujudkan melalui:

1.      Pembelajaran Berbasis Makna (Meaningful Learning) — Siswa tidak hanya menghafal kosakata dan struktur kalimat, tetapi memahami konteks penggunaannya dalam kehidupan nyata dan teks keislaman.

2.      Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi (HOTS) — Siswa diajak menganalisis ayat, hadis, dan teks Arab dengan berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif.

3.      Refleksi dan Metakognisi — Peserta didik dilatih untuk menyadari proses belajar mereka, mengevaluasi kesulitan, dan mengembangkan strategi belajar efektif.

4.      Integrasi Nilai Spiritual dan Kultural — Setiap materi dikaitkan dengan nilai-nilai Islam dan budaya Arab sebagai sarana pembentukan karakter.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan cinta sebagai inti proses pendidikan. Cinta dimaknai sebagai energi spiritual yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan kebahagiaan dalam belajar. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Arab, KBC memiliki prinsip:

1.      Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melalui penghayatan bahasa Al-Qur’an dan hadis.

2.      Cinta kepada ilmu melalui proses belajar yang menyenangkan dan bermakna.

3.      Cinta kepada sesama dengan menumbuhkan kolaborasi, saling menghargai, dan kerja sama dalam kegiatan belajar.

4.      Cinta kepada diri sendiri melalui pengenalan potensi, penguatan motivasi, dan apresiasi terhadap pencapaian diri.

Integrasi Deep Learning dan KBC dalam Modul Ajar Bahasa Arab

Modul ajar yang mengintegrasikan Deep Learning dan KBC harus memuat:

1.      Tujuan Pembelajaran Holistik mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

2.      Kegiatan Belajar Reflektif seperti tadabbur ayat, dialog nilai, dan proyek kreatif berbahasa Arab.

3.      Pendekatan Kontekstual yang mengaitkan materi dengan pengalaman spiritual dan sosial siswa.

4.      Asesmen Otentik berupa portofolio, jurnal refleksi, dan produk kreatif (video, poster, atau karya tulis Arab).

5.      Bahasa Cinta dalam Pembelajaran — Guru menggunakan pendekatan empatik, komunikasi positif, dan penghargaan terhadap proses belajar siswa.

Contoh Penerapan Pada Modul Ajar

Manfaat Pengembangan Modul Ajar Ini

1.      Meningkatkan motivasi belajar melalui pengalaman belajar yang menyentuh hati.

2.      Menumbuhkan kesadaran spiritual karena bahasa Arab dipelajari sebagai bahasa wahyu.

3.      Menguatkan karakter peserta didik melalui cinta, empati, dan penghargaan terhadap ilmu.

4.      Meningkatkan kompetensi komunikatif karena pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna.

Kesimpulan

Modul ajar Bahasa Arab dengan muatan Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta merupakan inovasi yang relevan dengan paradigma pendidikan holistik di era modern. Pembelajaran Bahasa Arab tidak lagi sekadar mengajarkan struktur bahasa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, rasa cinta, dan kebahagiaan dalam mencari ilmu. Guru berperan sebagai fasilitator cinta dan pemandu makna, sementara peserta didik menjadi penjelajah pengetahuan yang berjiwa reflektif dan penuh kasih.

Daftar Pustaka

  • Biggs, J. & Tang, C. (2011). Teaching for Quality Learning at University. McGraw-Hill.
  • Palmer, P. (1998). The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of a Teacher's Life. Jossey-Bass.
  • Zohar, D. & Marshall, I. (2000). SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence. Bloomsbury.
  • Kemendikbudristek. (2022). Panduan Pengembangan Kurikulum Merdeka Berbasis Cinta. Jakarta: Kemendikbudristek.
  • Al-Ghazali. (2011). Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar al-Fikr.

Senin, 08 September 2025

The Origin of Arabic Script

 

The first stage in the development of Arabic script was the Egyptian Demotic script, which was commonly used by the public. The Egyptians had three types of writing: Hieroglyphic (used exclusively by religious leaders), Hieratic (for office workers and civil servants), and Demotic (used by the general public).

The second stage was the Phoenician script, named after a place called Phoenicia near the land of Canaan on the coast of the Mediterranean Sea, now known as Jabal Lubnan (Mount Lebanon). The Phoenicians were descendants of the Semitic people, who frequently traded and had other dealings with the Egyptians. From the Egyptians, they learned the letters for their writing. The Phoenicians then created a simple alphabet for their commercial needs. According to the archaeologist Maspero, they adopted 15 letters from the Egyptian script with slight modifications. After that, they added several new letters that later became famous in Asia and Europe due to their simplicity.

The third stage originated from the Aramean people, also called Musnad. There is a difference of opinion on this between European and Arab historians.

European Historians' Opinion

European historians concluded that the Phoenician script gave birth to four scripts:

1.      Ancient Greek script, the ancestor of all European and Coptic scripts.

2.      Ancient Hebrew script, including the Samaritan script from Samirah in Naples.

3.      Al-Musnad al-Himyari, which gave rise to the Ethiopian script.

4.      Aramean script, the ancestor of six types of writing:

o    All types of Indian scripts.

o    Ancient Persian script (Pahlavi).

o    Square Hebrew script.

o    Palmyrene script.

o    Syriac script.

o    Nabataean script.

According to Western scholars, there are two types of Arabic script: Kufic, which originated from the Syriac type (called Estrangela), and Naskh, which originated from the Nabataean script. Based on this opinion, the Al-Musnad script is not considered part of the Arabic script family.

Arab Historians' Opinion

Arab historians, both before and after Islam, believed that their Hijazi script originated from the inhabitants of Hirah and Anbar. The script reached these two groups from the Kindah Arabs and the Nabataeans, who had adopted it from Al-Musnad.

Arab historians agree that their script reached Mecca through Harb bin Umayyah bin Abdu-Syams, who learned it from several people during his travels. One of them was Bisyr bin Abdul Malik. Bisyr came to Mecca with Harb bin Umayyah, married his daughter Shahba, and taught writing to several inhabitants of Mecca before leaving.

According to a narration from Ibn Abbas, the people of Anbar learned to write from the people of Hirah. From whom did Harb bin Umayyah learn? Based on the same narration, he learned from Abdullah bin Jad'an, who learned from the people of Anbar, who learned from the people of Hirah, who learned from a traveler from the Kindah tribe in Yemen. The traveler got it from Khafaljan, the scribe of the revelation of Prophet Hud. According to Al-Mas'udi, the Bani Al-Muhshan bin Jandal (the Nabataeans) were the ones who spread the script.

According to Arab historians, the Al-Musnad script is part of the Arabic script lineage. Some Arab scholars support this opinion because:

1.      One type of Musnad script, namely Shafawi, is close to the Phoenician script. This script reached the people of Hirah and Anbar from Yemen, as well as from the Aramean people, through the Kindah and Nabataean tribes.

2.      Due to the intermingling and close proximity of the Nabataeans with the Yemenis and some Arameans, they may have learned the Musnad script from the Yemenis or Arameans.

3.      The agreement of Arab historians that the Hijazi script came from Yemen does not negate the possibility of its origin being the Aramean script, since the Yemenis could have obtained it from the Arameans.

4.      The existence of the Rawadif letters (ث خ ذ ص ظ غ) in the Al-Musnad script that are not found in the Aramean script. The absence of these letters in a specific form in the Hijazi script indicates that the Aramean script did not have them. This led the Arabs to create these letters by adding dots to existing ones.

As further evidence, Al-Hafidz Syamsuddin Adz-Dzahabi mentions that Zaid bin Tsabit, on the order of the Prophet Muhammad, learned the Jewish script. He mastered it in half a month, which indicates that what he learned was the Estrangela script, the origin of the Kufic script and a type of Syriac writing. The Kufic script is most similar to the Hiri script (from Hirah). The Hiri script is close to the Nabataean script, which originated from the Aramean script, which came from the Phoenician script, which came from the Demotic script, the script of the Egyptian people.

Writings in Madinah (Yathrib)

Historians of the Prophet's life note that when Prophet Muhammad arrived in Madinah, a Jewish man was already teaching writing to some children. A dozen or so people in the city could write, including Said bin Zurarah, Munzir bin 'Amr, Ubai bin Wahb, Zaid bin Tsabit, Rafi' bin Malik, and Aus bin Khauli. They seemed to already understand the Hijazi script that originated from the Hirah script. This does not contradict the fact that Zaid learned the Jewish script at the Prophet's command after he was in Madinah.

The Prophet Muhammad was the first person to order the general spread of the knowledge of writing after his migration to Madinah. After the Battle of Badr, 70 Quraysh captives who could read and write were taken. For the illiterate captives, the Prophet accepted a ransom of wealth, but for those who were literate, each was required to teach ten children to write as their ransom. From then on, writing gradually became popular in Madinah and the areas under Islamic rule.

The Hijazi script consists of two types:

  • Naskh, used for correspondence.
  • Kufic, named after the city of Kufah, because the rules of the Hijazi script were perfected there.

Researchers have found two original letters from the Prophet Muhammad that were sent to Mukaukis and Munzir bin Shawi. The letter to Mukaukis was found by a French scholar in an old Egyptian church and is now kept in the Museum of the Prophet's Relics in Astanah. This letter was then bought by Sultan Abdul Majid for a very high price. The second letter is kept in the library of Vienna, Austria.

Asal Mula Tulisan Arab

 

Tahap pertama dari rangkaian khat Arab adalah khat Mesir Demotik, yang biasa digunakan oleh rakyat. Orang Mesir memiliki tiga macam tulisan: Hieroglif (khusus dipakai para pemuka agama), Herotic (untuk karyawan kantor dan pegawai negeri), dan Demotic (untuk masyarakat umum).

Tahap kedua adalah khat Phoenicia, nama yang berasal dari daerah Phoenicia di dekat daratan Kanaan (sekarang disebut Gunung Libanon). Bangsa Phoenicia adalah keturunan Semit yang sering berhubungan dengan orang Mesir dalam perdagangan dan urusan lainnya. Dari orang Mesir inilah mereka mempelajari huruf-huruf untuk tulisan mereka. Orang Phoenicia kemudian menciptakan huruf-huruf sederhana untuk keperluan perdagangan. Menurut arkeolog Maspero, mereka mengambil 15 huruf dari tulisan Mesir dengan sedikit perubahan. Setelah itu, mereka menambahkan beberapa huruf baru yang kemudian terkenal di Asia dan Eropa karena kemudahannya.

Tahap ketiga berasal dari bangsa Aramiy atau disebut juga Musnad. Ada perbedaan pendapat antara sejarawan Eropa dan Arab mengenai hal ini.

Pendapat Sejarawan Eropa

Sejarawan Eropa berpendapat bahwa tulisan Phoenicia melahirkan empat tulisan, yaitu:

1.      Tulisan Yunani Kuno, cikal-bakal semua tulisan Eropa dan Koptik.

2.      Ibrani Kuno, termasuk tulisan Samiri dari Samirah di Naples.

3.      Al-Musnad al-Himyari, yang melahirkan tulisan Habsyi (Etiopia).

4.      Tulisan Aramiy, cikal-bakal enam jenis tulisan, yaitu:

o    Tulisan India dengan segala macamnya.

o    Tulisan Persia Kuno (Pahlevi).

o    Tulisan Ibrani persegi empat.

o    Tulisan Tadmuri.

o    Tulisan Suryani.

o    Tulisan Nabthiy.

Menurut orang Barat, tulisan Arab memiliki dua macam: Kufi yang berasal dari jenis Suryani (disebut Astranjil) dan Naskhi yang berasal dari tulisan Nabthiy. Berdasarkan pendapat ini, tulisan Al-Musnad tidak termasuk tulisan Arab.

Pendapat Sejarawan Arab

Sejarawan Arab, baik sebelum maupun sesudah Islam, berpendapat bahwa tulisan Hijazi mereka berasal dari penduduk Hirah dan Anbar. Tulisan yang sampai kepada mereka berasal dari Arab Kindah dan orang-orang Nabthiy, yang menukilnya dari Al-Musnad.

Para sejarawan Arab sepakat bahwa khat mereka sampai ke Makkah melalui Harb bin Umayyah bin Abdu-Syams yang belajar dari beberapa orang dalam perjalanannya. Salah satunya adalah Bisyr bin Abdul Malik. Bisyr datang ke Makkah bersama Harb bin Umayyah, menikahi putrinya bernama Shahba, dan mengajari beberapa penduduk Makkah sebelum pergi.

Menurut riwayat Ibnu Abbas, penduduk Anbar mengenal tulisan melalui penduduk Hirah. Dari mana Harb bin Umayyah belajar? Berdasarkan riwayat yang sama, ia belajar dari Abdullah bin Jad'an, yang belajar dari penduduk Anbar, yang belajar dari penduduk Hirah, yang belajar dari seorang musafir suku Kindah di Yaman. Musafir itu mendapatkannya dari Khafaljan, penulis wahyu Nabi Hud. Menurut Al-Mas'udi, Bani Al-Muhshan bin Jandal (kaum Nabth) yang menyebarluaskan tulisan.

Menurut sejarawan Arab, tulisan Al-Musnad merupakan bagian dari rangkaian tulisan Arab. Beberapa ilmuwan Arab mendukung pendapat ini karena:

1.      Salah satu jenis tulisan Musnad, yaitu Shafawiy, dekat dengan tulisan Phoenicia. Tulisan ini mencapai orang Hirah dan Anbar dari Yaman, serta dari orang-orang Aramiy, melalui suku Kindah dan Nabthiy.

2.      Karena percampuran dan kedekatan orang Nabthiy dengan orang Yaman dan sebagian orang Aramiy, mereka mungkin mempelajari tulisan Musnad dari orang Yaman atau Aramiy.

3.      Kesepakatan sejarawan Arab bahwa tulisan di Hijaz datang dari Yaman tidak menafikan kemungkinan asalnya dari tulisan Aramiy, karena orang Yaman bisa saja memperolehnya dari orang Aramiy.

4.      Adanya huruf-huruf Rawadif (ث خ ذ ض ظ غ) dalam tulisan Al-Musnad yang tidak ada pada tulisan Aramiy. Tidak adanya huruf ini dalam bentuk khusus pada tulisan Hijazi menunjukkan bahwa tulisan Aramiy memang tidak memilikinya. Hal ini mendorong orang Arab menciptakan huruf-huruf tersebut dengan menambahkan titik pada huruf-huruf yang sudah ada.

Sebagai bukti lain, Al-Hafidz Syamsuddin Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Zaid bin Tsabit atas perintah Nabi Muhammad SAW mempelajari tulisan Yahudi. Ia menguasainya dalam setengah bulan, yang menunjukkan bahwa yang dipelajarinya adalah tulisan Astranjil, asal-usul tulisan Kufi dan salah satu jenis tulisan Suryani. Tulisan Kufi adalah yang paling mirip dengan tulisan Hiri (dari Hirah). Tulisan Hiri dekat dengan Nabthiy, yang berasal dari Aramiy, yang berasal dari Phoenicia, yang berasal dari Demotic, tulisan rakyat Mesir.

Tulisan di Madinah (Yatsrib)

Ahli sirah mencatat bahwa ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, sudah ada seorang Yahudi yang mengajar menulis. Ada beberapa belas orang di kota itu yang sudah bisa menulis, di antaranya Said bin Zurarah, Munzir bin 'Amr, Ubai bin Wahb, Zaid bin Tsabit, Rafi' bin Malik, dan Aus bin Khauli. Mereka tampaknya sudah memahami khat Hijazi yang berasal dari tulisan Hirah. Hal ini tidak bertentangan dengan fakta bahwa Zaid mempelajari tulisan Yahudi atas perintah Nabi setelah beliau berada di Madinah.

Rasulullah SAW adalah orang pertama yang memerintahkan penyebaran ilmu menulis secara umum setelah hijrahnya ke Madinah. Setelah Perang Badar, ada 70 tawanan Quraisy yang dapat membaca dan menulis. Untuk tawanan yang buta huruf, Rasul menerima tebusan dengan harta, tetapi bagi yang bisa membaca dan menulis, tebusan mereka adalah mengajar 10 anak kecil menulis. Sejak itu, menulis menjadi populer di Madinah dan daerah-daerah kekuasaan Islam.

Khat Hijazi terdiri atas dua jenis: Naskhi, digunakan untuk surat-menyurat. Kufi, dinamai dari kota Kufah, karena kaidah-kaidah tulisan Hijazi disempurnakan di sana.

Para peneliti telah menemukan dua surat asli dari Rasulullah SAW yang dikirim untuk Mukaukis dan Munzir bin Shawi. Surat untuk Mukaukis ditemukan oleh seorang sarjana Prancis di gereja tua Mesir dan sekarang disimpan di Museum Peninggalan Nabi SAW di Astanah. Surat ini kemudian dibeli oleh Sultan Abdul Majid dengan harga sangat mahal. Sementara itu, surat kedua disimpan di perpustakaan Wina, Austria.

Daftar Pustaka

Az-Zanjani, Abu Abdullah, Tarikh Al-Quran, Islamic Propagation Organization, Iran 1984

Jumat, 05 September 2025

Remidi Asesmen Sumatif 1 Semester Ganjil

 

Kosa Kata dan Ungkapan Berkaitan dengan Sekolah

 A.     Budaya Arab

Sekolah di negara-negara Arab, seperti di Arab Saudi, memiliki sistem pendidikan yang kuat berakar pada nilai-nilai Islam dan tradisi budaya, dengan kurikulum yang mengintegrasikan studi agama secara mendalam. Budaya belajarnya mencerminkan penekanan pada ajaran agama dan bahasa Arab, dengan pemisahan gender di ruang kelas sekolah negeri, serta adanya sekolah internasional yang menawarkan beragam kurikulum.

Karakteristik Pendidikan di Negara-negara Arab (Contoh: Arab Saudi)

Fokus pada Nilai Agama dan Budaya: Sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam dan Syariah, terutama dalam mata pelajaran seperti Al-Qur'an dan Syariah.

Pemisahan Gender: Di sekolah negeri, siswa laki-laki dan perempuan belajar di kelas terpisah, meskipun kurikulum dan ujiannya sama.

Kurikulum Inti: Kurikulum sekolah dasar dan menengah meliputi bahasa Arab, matematika, sains, studi Islam, dan seni, dengan pengenalan bahasa Inggris sejak kelas satu.

Pendidikan Gratis untuk Warga Negara: Sekolah negeri di Arab Saudi gratis bagi warga negara Saudi.

Sekolah Internasional: Tersedia sekolah swasta dengan kurikulum internasional (misalnya, Inggris, Amerika, atau International Baccalaureate) untuk siswa asing dan keluarga yang menginginkan pilihan pendidikan yang berbeda.

Budaya Belajar

Penekanan pada Ketaatan: Budaya belajar sering kali menekankan ketaatan dan penghormatan terhadap guru dan otoritas, yang merupakan bagian integral dari nilai-nilai budaya Islam.

Pembelajaran Daring dan Modernisasi: Ada dorongan kuat untuk mengintegrasikan teknologi pendidikan modern, termasuk pembelajaran daring di tingkat perguruan tinggi, untuk meningkatkan aksesibilitas pendidikan.

Lingkungan Kelas: Meskipun ada pemisahan gender, ruang kelas di sekolah negeri sering kali penuh dengan siswa dari latar belakang budaya yang beragam, menciptakan lingkungan yang unik bagi siswa asing untuk belajar bahasa dan budaya lokal.

B.     Kosa Kata dan Ungkapan

Kosa Kata

Tulisan Arab

Terjemahan

Tulisan Arab

Terjemahan

مَدْرَسَةٌ

Sekolah

اِمْتِحَانٌ

Ujian

فَصْلٌ

Kelas

دَرْسٌ

Pelajaran

طَالِبٌ

Siswa (laki-laki)

صِفْرٌ

Nol/Angka nol

طَالِبَةٌ

Siswi (perempuan)

رَقَمٌ

Angka

مُعَلِّمٌ

Guru (laki-laki)

مُدِيرٌ

Kepala sekolah (laki-laki)

مُعَلِّمَةٌ

Guru (perempuan)

يَقْرَأُ

Dia membaca

كِتَابٌ

Buku

يَكْتُبُ

Dia menulis

قَلَمٌ

Pena/Pensil

يَدْرُسُ

Dia belajar

مِمْسَحَةٌ

Penghapus

يَذْهَبُ

Dia pergi

دَفْتَرٌ

Buku catatan

يَرْجِعُ

Dia kembali

سَبُّورَةٌ

Papan tulis

يَجْلِسُ

Dia duduk

طَاوِلَةٌ

Meja

يَقُومُ

Dia berdiri

كُرْسِيٌّ

Kursi

يَفْهَمُ

Dia memahami

بَابٌ

Pintu

يَسْمَعُ

Dia mendengar

نَافِذَةٌ

Jendela

يَتَكَلَّمُ

Dia berbicara

حَقِيبَةٌ

Tas

يُشَاهِدُ

Dia menonton/melihat

مَكْتَبَةٌ

Perpustakaan

يُجِيبُ

Dia menjawab

مَلْعَبٌ

Lapangan

يَسْأَلُ

Dia bertanya

مِقْلَمَةٌ

Kotak pensil

يُعَلِّمُ

Dia mengajar

مِسْطَرَةٌ

Penggaris

يَفْتَحُ

Dia membuka

خَرِيطَةٌ

Peta

يُغْلِقُ

Dia menutup

لَوْحَةٌ

Papan/Lukisan

يَتَوَضَّأُ

Dia berwudu

سَاعَةٌ

Jam

يُصَلِّي

Dia salat

قَامُوسٌ

Kamus

يَرْتَدِى

Dia mengenakan/memakai

وَاجِبٌ

Tugas/PR

يَحْضُرُ

Dia hadir

 

Ungkapan

Tulisan Arab

Terjemahan

Tulisan Arab

Terjemahan

كَيْفَ حَالُكَ؟

Bagaimana kabarmu ?

مَا هَذَا؟

Apa ini ?

شُكْرًا جَزِيلًا

Terimakasih banyak

تَفَضَّلْ بِالدُّخُولِ

Silahkan masuk (lk)

عَفْوًا

Terimakasih kembali/maaf

تَفَضَّلِي بِالدُّخُولِ

Silahkan masuk (pr)

هَيَّا بِنَا

Mari kita ...

لَا أَفْهَمُ     

Saya tidak paham

اِفْتَحِ الْكِتَابَ

Bukalah pintu

أَعِدْ مِن فَضْلِكَ

Tolong ulangi (lk)

أَكْتُبُ الْوَاجِبَ

Saya menulis PR

أَعِيدِي مِن فَضْلِكِ

Tolong ulangi (pr)

اِجْلِسْ فِي مَكَانِكَ

Duduklah di tempatmu

اِسْتَمِعْ جَيِّدًا

Dengarkan baik-baik (pr)

مَتَى الْاِمْتِحَانُ؟

Kapan ujian ?

اِسْتَمِعِي جَيِّدًا

Dengarkan baik-baik (pr)

أَنَا ذَاهِبٌ إِلَى الْمَكْتَبَةِ

Saya pergi ke perpustakaan

هَلْ عِنْدَكَ سُؤَالٌ؟

Apakah kamu mempunyai pertanyaan

مَرْحَبًا بِكُمْ

Selamat datang

عِنْدِيْ سُؤَالٌ

Saya mempunyai pertanyaan

CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN BAHASA ARAB MA BERDASARKAN KEPUTUSAN DIRJEN PENDIS NOMOR 9941 TAHUN 2025

Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikembangkan, karena selain menjadi bahasa agama, juga berperan sebagai bahasa intern...