Tahap pertama dari rangkaian khat Arab
adalah khat Mesir Demotik, yang biasa digunakan oleh rakyat. Orang Mesir
memiliki tiga macam tulisan: Hieroglif (khusus dipakai para pemuka
agama), Herotic (untuk karyawan kantor dan pegawai negeri), dan Demotic
(untuk masyarakat umum).
Tahap kedua adalah khat Phoenicia,
nama yang berasal dari daerah Phoenicia di dekat daratan Kanaan (sekarang
disebut Gunung Libanon). Bangsa Phoenicia adalah keturunan Semit yang sering berhubungan
dengan orang Mesir dalam perdagangan dan urusan lainnya. Dari orang Mesir
inilah mereka mempelajari huruf-huruf untuk tulisan mereka. Orang Phoenicia
kemudian menciptakan huruf-huruf sederhana untuk keperluan perdagangan. Menurut
arkeolog Maspero, mereka mengambil 15 huruf dari tulisan Mesir dengan sedikit
perubahan. Setelah itu, mereka menambahkan beberapa huruf baru yang kemudian
terkenal di Asia dan Eropa karena kemudahannya.
Tahap ketiga berasal dari bangsa Aramiy
atau disebut juga Musnad. Ada perbedaan pendapat antara sejarawan Eropa
dan Arab mengenai hal ini.
Pendapat Sejarawan Eropa
Sejarawan
Eropa berpendapat bahwa tulisan Phoenicia melahirkan empat tulisan, yaitu:
1.
Tulisan Yunani Kuno, cikal-bakal semua
tulisan Eropa dan Koptik.
2.
Ibrani Kuno, termasuk tulisan
Samiri dari Samirah di Naples.
3.
Al-Musnad al-Himyari, yang melahirkan
tulisan Habsyi (Etiopia).
4.
Tulisan Aramiy, cikal-bakal enam
jenis tulisan, yaitu:
o
Tulisan India dengan segala macamnya.
o
Tulisan Persia Kuno (Pahlevi).
o
Tulisan Ibrani persegi empat.
o
Tulisan Tadmuri.
o
Tulisan Suryani.
o
Tulisan Nabthiy.
Menurut
orang Barat, tulisan Arab memiliki dua macam: Kufi yang berasal dari
jenis Suryani (disebut Astranjil) dan Naskhi yang berasal dari
tulisan Nabthiy. Berdasarkan pendapat ini, tulisan Al-Musnad tidak termasuk
tulisan Arab.
Pendapat Sejarawan Arab
Sejarawan Arab, baik sebelum maupun
sesudah Islam, berpendapat bahwa tulisan Hijazi mereka berasal dari penduduk Hirah
dan Anbar. Tulisan yang sampai kepada mereka berasal dari Arab Kindah
dan orang-orang Nabthiy, yang menukilnya dari Al-Musnad.
Para sejarawan Arab sepakat bahwa khat
mereka sampai ke Makkah melalui Harb bin Umayyah bin Abdu-Syams yang
belajar dari beberapa orang dalam perjalanannya. Salah satunya adalah Bisyr bin
Abdul Malik. Bisyr datang ke Makkah bersama Harb bin Umayyah, menikahi putrinya
bernama Shahba, dan mengajari beberapa penduduk Makkah sebelum pergi.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, penduduk
Anbar mengenal tulisan melalui penduduk Hirah. Dari mana Harb bin Umayyah
belajar? Berdasarkan riwayat yang sama, ia belajar dari Abdullah bin Jad'an,
yang belajar dari penduduk Anbar, yang belajar dari penduduk Hirah, yang
belajar dari seorang musafir suku Kindah di Yaman. Musafir itu mendapatkannya
dari Khafaljan, penulis wahyu Nabi Hud. Menurut Al-Mas'udi, Bani Al-Muhshan bin
Jandal (kaum Nabth) yang menyebarluaskan tulisan.
Menurut sejarawan Arab, tulisan
Al-Musnad merupakan bagian dari rangkaian tulisan Arab. Beberapa ilmuwan Arab
mendukung pendapat ini karena:
1. Salah
satu jenis tulisan Musnad, yaitu Shafawiy, dekat dengan tulisan Phoenicia. Tulisan
ini mencapai orang Hirah dan Anbar dari Yaman, serta dari orang-orang Aramiy,
melalui suku Kindah dan Nabthiy.
2. Karena
percampuran dan kedekatan orang Nabthiy dengan orang Yaman dan sebagian orang
Aramiy, mereka mungkin mempelajari tulisan Musnad dari orang Yaman atau Aramiy.
3. Kesepakatan
sejarawan Arab bahwa tulisan di Hijaz datang dari Yaman tidak menafikan
kemungkinan asalnya dari tulisan Aramiy, karena orang Yaman bisa saja
memperolehnya dari orang Aramiy.
4. Adanya
huruf-huruf Rawadif (ث خ ذ ض ظ غ) dalam tulisan Al-Musnad yang tidak
ada pada tulisan Aramiy. Tidak adanya huruf ini dalam bentuk khusus pada
tulisan Hijazi menunjukkan bahwa tulisan Aramiy memang tidak memilikinya. Hal
ini mendorong orang Arab menciptakan huruf-huruf tersebut dengan menambahkan
titik pada huruf-huruf yang sudah ada.
Sebagai bukti lain, Al-Hafidz
Syamsuddin Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa Zaid bin Tsabit atas perintah Nabi
Muhammad SAW mempelajari tulisan Yahudi. Ia menguasainya dalam setengah bulan,
yang menunjukkan bahwa yang dipelajarinya adalah tulisan Astranjil, asal-usul
tulisan Kufi dan salah satu jenis tulisan Suryani. Tulisan Kufi adalah yang
paling mirip dengan tulisan Hiri (dari Hirah). Tulisan Hiri dekat dengan
Nabthiy, yang berasal dari Aramiy, yang berasal dari Phoenicia, yang berasal
dari Demotic, tulisan rakyat Mesir.
Tulisan di Madinah (Yatsrib)
Ahli sirah mencatat bahwa ketika Nabi
Muhammad SAW tiba di Madinah, sudah ada seorang Yahudi yang mengajar menulis. Ada
beberapa belas orang di kota itu yang sudah bisa menulis, di antaranya Said bin
Zurarah, Munzir bin 'Amr, Ubai bin Wahb, Zaid bin Tsabit, Rafi' bin Malik, dan
Aus bin Khauli. Mereka tampaknya sudah memahami khat Hijazi yang berasal dari
tulisan Hirah. Hal ini tidak bertentangan dengan fakta bahwa Zaid mempelajari
tulisan Yahudi atas perintah Nabi setelah beliau berada di Madinah.
Rasulullah SAW adalah orang pertama
yang memerintahkan penyebaran ilmu menulis secara umum setelah hijrahnya ke
Madinah. Setelah Perang Badar, ada 70 tawanan Quraisy yang dapat membaca dan
menulis. Untuk tawanan yang buta huruf, Rasul menerima tebusan dengan harta,
tetapi bagi yang bisa membaca dan menulis, tebusan mereka adalah mengajar 10
anak kecil menulis. Sejak itu, menulis menjadi populer di Madinah dan
daerah-daerah kekuasaan Islam.
Khat
Hijazi
terdiri atas dua jenis: Naskhi, digunakan untuk surat-menyurat. Kufi,
dinamai dari kota Kufah, karena kaidah-kaidah tulisan Hijazi disempurnakan di
sana.
Para peneliti telah menemukan dua surat
asli dari Rasulullah SAW yang dikirim untuk Mukaukis dan Munzir bin Shawi. Surat
untuk Mukaukis ditemukan oleh seorang sarjana Prancis di gereja tua Mesir dan
sekarang disimpan di Museum Peninggalan Nabi SAW di Astanah. Surat ini kemudian
dibeli oleh Sultan Abdul Majid dengan harga sangat mahal. Sementara itu, surat
kedua disimpan di perpustakaan Wina, Austria.
Daftar Pustaka
Az-Zanjani, Abu Abdullah, Tarikh
Al-Quran, Islamic Propagation Organization, Iran 1984
Tidak ada komentar:
Posting Komentar