Rabu, 20 Agustus 2025

Pembagian Isim Dari Segi Wujudnya

 

Bila dilihat wujudnya, isim terbagi menjadi isim zhahir dan isim dhamir. Berikut penjelasan tentang isim zhahir dan isim dhamir.

A. Isim Dhohir

Isim zhahir didefinisikan:

مَا دَلَّ عَلَى مُسَمَّاهُ بِلَا قَيِّدٍ

Artinya: kata yang menunjukkan sesuatu yang dinamainya tanpa batasan.

Isim zhahir adalah isim yang menunjukkan makna secara langsung. Adapula yang mendefinisikan isim zhahir adalah isim yang tidak menunjukkan mutakallim, mukhathab, atau ghaib. Isim zhahir merupakan isim yang menunjukkan nama orang, nama kota, nama benda, dll.

Nama isim zhahir disini bukan berarti isim yang terlihat saja. Kata yang menunjukkan perasaan atau khayalan pun termasuk isim zhahir.

Contoh isim zhahir:

أَحْمَدُ – بَغْدَاد – بَيْتٌ – أَسَدٌ – مَحَبَّةٌ – رِضَا – إِخْلَاص – شَجَرَة - كِتَاب

B. Isim Dhomir

Isim dhamir didefinisikan:

مَا دَلَّ عَلَى مُتَكَلِّمٍ اَوْ مُخَطَبٍ اَوْ غَائِبٍ

Artinya: isim yang menunjukan makna mutakallim (orang yang berbicara), mukhatab (orang yang diajak bicara), dan ghaib (orang yang dibicarakan).

Isim dhamir sama dengan kata ganti dalam bahasa Indonesia. Jumlah kata ganti dalam bahasa Arab ada 14 macam. Isim dhamir terbagi ke dalam tiga macam.

1. Mutakallim

Mutakallim adalah kata ganti untuk orang pertama atau orang berbicara. Isim dhamir mutakallim ada dua:

أَنَا = Saya (sendiri)

نَحْنُ = Kami/Kita (untuk dua orang atau lebih)

2. Mukhathab

Mukhathab adalah kata ganti untuk orang kedua atau orang diajak bicara. Isim dhamir yang termasuk ke dalam mukhathab ada 6, yaitu:

أَنْتَ = Kamu (laki-laki satu orang)

أَنْتُمَا =Kamu berdua (laki-laki dua orang)

أَنْتُمْ = Kalian (laki-laki bertiga atau lebih)

أَنْتِ = Kamu (Perempuan satu orang )

أَنْتُمَا = Kamu berdua (perempuan dua orang)

أَنتُنَّ = Kalian (Perempuan tiga orang atau lebih)

3. Ghaib

Ghaib disini bukan berarti hantu atau makhluk halus ya. Ghaib adalah kata ganti untuk orang ketiga atau orang dibicarakan. Isim dhamir ghaib ada 6 macam, yaitu:

هُوَ = Dia (Laki-laki satu orang)

هُمَا = Mereka berdua (Laki-laki berdua)

هُمْ = Mereka ( laki-laki tiga orang atau lebih)

هِيَ = Dia (perempuan satu orang)

هُمَا  = Mereka berdua (Perempuan dua orang )

هُنَّ = Mereka Perempuan (perempuan tiga orang atau lebih)

Selain bentuk di atas, isim dhamir juga memiliki bentuk yang berbeda apabila disambungkan dengan kata yang lain dan berada pada posisi dalam irab tertentu.

Maf’ul

Fail (Mudhari)

Fail (Madhi)

Dhamir

 فَعَلَهُ

يَفْعَلُ

فَعَلَ

هُوَ

 فَعَلَهُمَا

يَفْعَلَانِ

فَعَلَا

هُمَا

 فَعَلَهُمْ

يَفْعَلُوْنَ

فَعَلُوْا

هُمْ

 فَعَلَهَا

تَفْعَلُ

فَعَلَتْ

هِيَ

 فَعَلَهُمَا

تَفْعَلَانِ

فَعَلَتَا

هُمَا

 فَعَلَهُنَّ

يَفْعَلْنَ

فَعَلْنَ

هُنَّ

 فَعَلَكَ

تَفْعَلُ

فَعَلْتَ

أَنْتَ

 فَعَلَكُمَا

تَفْعَلَانِ

فَعَلْتُمَا

أَنْتُمَا

 فَعَلَكُمْ

تَفْعَلُوْنَ

فَعَلْتُمْ

أَنْتُمْ

 فَعَلَكِ

تَفْعَلِيْنَ

فَعَلْتِ

أَنْتِ

 فَعَلَكُمَا

تَفْعَلَانِ

فَعَلْتُمَا

أَنْتُمَا

 فَعَلَكُنَّ

تَفْعَلْنَ

فَعَلْتُنَّ

أَنْتُنَّ

 فَعَلَنِيْ

أَفْعَلُ

فَعَلْتُ

أَنَا

 فَعَلَنَا

نَفْعَلُ

فَعَلْنَا

نَحْنُ

Keterangan:

  •  Pada kolom paling kanan adalah dhamir ketika berdiri sendiri.
  • Pada kolom kedua dari kanan adalah dhamir ketika menjadi fa’il (marfu’) pada fi’il madhi.
  • Pada kolom ketiga dari kanan adalah dhamir ketika menjadi fa’il (marfu’) pada fi’il mudhari.
  • Pada kolom paling kiri adalah dhamir ketika maf’ul (manshub).
  • Isim dhamir dalam keadaan majrur sama dengan ketika manshub.

Selasa, 19 Agustus 2025

Kebijakan Pendidikan: Infrastruktur versus Pembangunan SDM Pendidik

Pendahuluan

Amanat konstitusional dalam Pembukaan UUD 1945 menyebutkan tujuan utama Negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini menuntut kebijakan pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat kualitas dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan.

Dominasi Infrastruktur dalam Alokasi Anggaran Pendidikan

Pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp 722–724 triliun pada APBN 2025 (detikcom dan Kompas Money). Dari jumlah tersebut, sekitar 11 % atau setara Rp 83,2 triliun ditargetkan bagi pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan guru serta peningkatan layanan pendidikan (detikcom).

Terlepas dari angka besar tersebut, data menunjukkan disparitas: hanya sekitar 3,09 % dari Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dialokasikan untuk peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan (Kompas). Sementara itu, potongan anggaran sebesar Rp 8 triliun terhadap Kemendikdasmen menimbulkan kekhawatiran atas keberlanjutan program-program kritis seperti sertifikasi dan kesejahteraan guru honorer (Kompas).

Upaya Pemerintah terhadap Kesejahteraan Guru

Pada November 2024, Presiden Prabowo mengumumkan kenaikan anggaran kesejahteraan bagi guru ASN dan non-ASN, menjadi Rp 81,6 triliun—naik Rp 16,7 triliun dibanding tahun sebelumnya (Republika dan online DetikKompas.com). Kebijakan tersebut mencakup:

  • Tambahan satu kali gaji pokok bagi guru ASN
  • Tunjangan profesi sebesar Rp 2 juta per bulan untuk guru non-ASN bersertifikasi (detikcom dan Republika Online)

Sementara itu, Kemenag mempersiapkan Rp 7,25 triliun khusus untuk kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan madrasah pada 2025. Namun, kurang dari 2 % dari anggaran tersebut diarahkan untuk pengembangan manajemen dan kompetensi; mayoritas dialokasikan untuk berbagai tunjangan seperti TPG, insentif, dan BPJS Ketenagakerjaan (detikcom).

Catatan dari Lapangan dan Kritik Masyarakat

Pemangkasan anggaran signifikan, seperti pada program pengembangan talenta (Rp 408 miliar menjadi Rp 57,3 miliar) dan beasiswa prestasi (Rp 349,2 miliar menjadi Rp 174,9 miliar), mencerminkan tekanan terhadap pembangunan SDM unggul (Reddit).
Mahasiswa bahkan menyuarakan bahwa program seperti KIP-K terancam terganggu karena pemotongan, menambah beban mereka agar tetap bisa kuliah (Reddit).

Analisis Akademik

Secara formal, pemerintah telah memenuhi batas minimal 20 % dari APBN untuk pendidikan. Akan tetapi, distribusi alokasi lebih berpihak ke infrastruktur dan belanja operasional, sementara anggaran untuk pengembangan profesional dan kesejahteraan guru masih terbatas.

Fenomena ini bertentangan dengan pernyataan UNESCO bahwa "the quality of education cannot exceed the quality of its teachers"—yakni tanpa pendidik yang sejahtera, berkompeten, dan termotivasi, upaya mencerdaskan bangsa akan tereduksi maknanya.

Kesimpulan dan Rekomendasi Strategis

Untuk mengaktualisasikan tujuan pendidikan nasional secara lebih substantif, perlu ada:

1.      Redistribusi anggaran: Tingkatkan proporsi yang masuk ke pengembangan kompetensi dan kesejahteraan pendidik.

2.      Transparansi dan akuntabilitas: Pastikan dana, terutama dari BOSP/BOS, digunakan sesuai peruntukan dan tidak sebagian besar tersedot oleh belanja fisik.

3.      Sistematisasi karier guru: Percepat penyelesaian sertifikasi, rekrutmen PPPK/PNS, dan perluasan pelatihan berkelanjutan.

4.      Monitoring dampak kebijakan efisiensi: Evaluasi substansial atas pengaruh pemangkasan anggaran terhadap kualitas pembelajaran.

Tanpa langkah-langkah tersebut, jargon mencerdaskan bangsa hanya akan berhenti di atas kertas, tanpa esensi nyata di lapangan.

Daftar Pustaka

  • Komisi X DPR RI. Pagu Anggaran Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2024. Kemendikbudristek, 2023.
  • DetikEdu. Prioritas Anggaran Pendidikan 2025: Kesejahteraan Guru dan PIP. 17 Agustus 2024.
  • Republika & Kompas. Anggaran Kesejahteraan Guru 2025 Capai Rp 81,6 Triliun. 28 Nov–1 Des 2024.
  • Detik. Anggaran Kemenag Rp 7,25 T untuk Kesejahteraan Guru Madrasah. 26 Sept 2024.
  • Kompas. Alokasi Dana BOSP untuk Kompetensi Guru Hanya 3,09 %. 4 Juni 2025.
  • Kompas. Pemangkasan Anggaran Kemendikdasmen Rp 8 Triliun. 11 Feb 2025.
  • Reddit. Perubahan Anggaran Program Talenta dan Beasiswa Prestasi 2025. “...dari 36.305 menjadi hanya 3.467”; “Beasiswa... dari 7.104 menjadi 3.864”
  • Reddit. Ancaman terhadap mahasiswa KIP-K akibat efisiensi anggaran. “...sangat besar potensi mereka untuk putus kuliah

 


Selasa, 12 Agustus 2025

Pendekatan Pembelajaran Mendalam: Strategi Komprehensif untuk Menciptakan Pembelajar Kritis, Kreatif, dan Sadar

Pendahuluan

Dunia pendidikan di era modern menuntut pergeseran paradigma dari pembelajaran yang berfokus pada hafalan (rote learning) menuju pembelajaran yang berorientasi pada pemahaman holistik. Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) hadir sebagai solusi pedagogis yang kuat untuk menjawab tantangan tersebut. Berbeda dengan pembelajaran dangkal (shallow learning) yang hanya berfokus pada fakta dan prosedur, pembelajaran mendalam bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman konseptual yang kokoh, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan metakognitif. Artikel ini akan menguraikan konsep dasar pembelajaran mendalam beserta pilar-pilar pentingnya—yaitu Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning), Pembelajaran Menyenangkan (Joyful Learning), dan Pembelajaran Sadar (Mindful Learning)—serta menawarkan contoh penerapannya dalam mata pelajaran Bahasa Arab.

Konsep Dasar Pembelajaran Mendalam

Pembelajaran mendalam adalah strategi pedagogis yang mendorong siswa untuk tidak hanya sekadar mengetahui informasi, tetapi juga mampu menginvestigasi, menganalisis, mensintesis, dan mengaplikasikan pengetahuan dalam berbagai konteks. Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan pembelajar yang mampu berpikir fleksibel dan adaptif, serta menjadi pemecah masalah yang efektif. Melalui pendekatan ini, siswa dilatih untuk:

  • Menghubungkan ide-ide yang beragam.
  • Menganalisis informasi dari berbagai sudut pandang.
  • Mengevaluasi validitas informasi yang diterima.
  • Mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi dunia nyata.

Pembelajaran mendalam berfokus pada kualitas interaksi dan pemahaman, bukan pada kuantitas materi yang diajarkan, sehingga memungkinkan siswa untuk membangun pengetahuan secara mendalam dan berkelanjutan.

Pilar-Pilar Utama Pembelajaran Mendalam

Untuk mencapai tujuan pembelajaran mendalam, diperlukan integrasi beberapa pilar penting yang bekerja secara sinergis.

1. Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning)

Pilar ini menekankan pentingnya keterkaitan antara materi pelajaran baru dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki siswa. Teori pembelajaran bermakna yang dipelopori oleh David Ausubel menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih efektif jika siswa dapat mengintegrasikan informasi baru ke dalam struktur kognitifnya. Untuk mewujudkannya, guru perlu:

  • Menciptakan Relevansi: Mengaitkan konsep abstrak dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa. Dalam mata pelajaran Bahasa Arab, misalnya, saat belajar tentang isim isyarah (kata tunjuk), guru dapat mengajak siswa menunjuk benda-benda di sekitar kelas dan menyebutkannya dalam bahasa Arab.
  • Menggunakan Pengalaman Konkret: Mendorong siswa untuk berbagi pengalaman pribadi yang relevan. Saat mempelajari tema al-usrah (keluarga), siswa dapat diminta membuat silsilah keluarga dalam bahasa Arab, yang secara langsung menghubungkan materi pelajaran dengan identitas personal mereka.

Dengan adanya makna, siswa tidak hanya menghafal, melainkan juga memahami esensi dari apa yang mereka pelajari, sehingga pengetahuan tersebut melekat dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

2. Pembelajaran Menyenangkan (Joyful Learning)

Pembelajaran yang menyenangkan merupakan katalisator yang membangkitkan motivasi intrinsik dan keterlibatan emosional siswa. Konsep ini bukan berarti pembelajaran tanpa tantangan, melainkan suasana belajar yang membuat siswa merasa:

  • Aman dan Didukung: Guru menciptakan lingkungan kelas yang non-judgmental, di mana siswa bebas bertanya dan membuat kesalahan tanpa rasa takut.
  • Tertantang secara Positif: Memberikan tugas yang menstimulasi rasa ingin tahu dan kreativitas. Dalam Bahasa Arab, ini bisa berupa permainan peran (role-playing) yang menggunakan dialog sederhana atau lomba kuis antar kelompok.
  • Memiliki Pilihan: Memberi siswa otonomi dalam memilih metode belajar atau produk akhir dari sebuah proyek, misalnya memilih antara presentasi lisan atau video singkat berbahasa Arab.

Pengalaman belajar yang menyenangkan mendorong siswa untuk lebih berani mencoba, bereksperimen, dan tidak mudah menyerah, yang pada akhirnya memperdalam pemahaman mereka terhadap materi.

3. Pembelajaran Sadar (Mindful Learning)

Pilar ini mengacu pada kemampuan siswa untuk hadir sepenuhnya dalam proses belajar, mengamati pikiran dan perasaan mereka tanpa penilaian, dan mengembangkan kesadaran metakognitif. Pembelajaran sadar membantu siswa untuk:

  • Fokus Penuh: Mengurangi gangguan dan meningkatkan konsentrasi. Guru dapat memulainya dengan teknik sederhana seperti meditasi singkat atau latihan pernapasan sebelum memulai pelajaran, yang membantu siswa untuk menenangkan pikiran dan siap belajar.
  • Merefleksikan Proses Belajar: Mendorong siswa untuk memikirkan "bagaimana" mereka belajar, bukan hanya "apa" yang mereka pelajari. Setelah menyelesaikan sebuah tugas, siswa dapat diminta untuk menulis jurnal refleksi tentang tantangan yang mereka hadapi, strategi yang mereka gunakan, dan pelajaran apa yang mereka petik.
  • Mengelola Emosi Belajar: Mengidentifikasi dan mengelola perasaan frustrasi atau kebingungan saat menghadapi materi yang sulit. Dalam pembelajaran Bahasa Arab, misalnya, saat siswa merasa kesulitan menghafal kosa kata, guru dapat membimbing mereka untuk menerima perasaan tersebut dan mencari strategi lain, seperti menggunakan kartu kata atau lagu, alih-alih menyerah.

Pembelajaran sadar melatih siswa untuk menjadi pembelajar yang otonom dan tangguh, yang memiliki kesadaran diri dan strategi untuk mengatasi kesulitan dalam belajar.

Penerapan dalam Mata Pelajaran Bahasa Arab

Integrasi ketiga pilar ini dalam pembelajaran Bahasa Arab akan menciptakan pengalaman belajar yang holistik.

  • Proyek Film Pendek tentang Budaya Arab: Proyek ini mengintegrasikan ketiga pilar. Siswa membuat naskah dan film pendek berbahasa Arab (bermakna) yang relevan dengan kehidupan mereka. Proses kolaborasi dalam tim membuat mereka merasa menyenangkan, dan melalui refleksi pasca-proyek, mereka menjadi sadar akan kekuatan dan kelemahan diri dalam berbahasa dan bekerja sama.
  • Studi Kasus Teks-Teks Sastra: Saat menganalisis sebuah puisi atau teks keagamaan, siswa tidak hanya menerjemahkan kata-kata, tetapi juga mencari makna tersirat dan historisnya (bermakna). Diskusi kritis dalam kelompok menjadi pengalaman menyenangkan yang menantang, dan melalui prosesnya, mereka menyadari berbagai sudut pandang yang mungkin ada.

Kesimpulan

Pendekatan pembelajaran mendalam menawarkan sebuah kerangka kerja pedagogis yang terintegrasi dan berfokus pada pengembangan manusia seutuhnya. Dengan memadukan prinsip-prinsip pembelajaran bermakna, menyenangkan, dan sadar, guru dapat mengubah kelas menjadi ekosistem belajar yang dinamis dan memberdayakan. Penerapannya dalam mata pelajaran Bahasa Arab, atau mata pelajaran lainnya, tidak hanya akan meningkatkan penguasaan materi, tetapi juga membentuk siswa menjadi individu yang kritis, kreatif, sadar, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Daftar Pustaka

  • Fullan, M. (2013). Stratosphere: Integrating Technology, Pedagogy, and Change Knowledge. Pearson. Buku ini menjelaskan integrasi teknologi, pedagogi, dan perubahan pengetahuan untuk mencapai pembelajaran mendalam.
  • Hattie, J. (2009). Visible Learning: A Synthesis of Over 800 Meta-Analyses Relating to Achievement. Routledge. Karya penting ini menyajikan bukti empiris tentang faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap pencapaian siswa, yang sebagian besar mendukung prinsip-prinsip pembelajaran mendalam.
  • Kuhn, D. (2005). Education for Thinking. Harvard University Press. Buku ini membahas pentingnya mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan metakognitif, yang merupakan inti dari pembelajaran mendalam.
  • McTighe, J., & Wiggins, G. (2004). Understanding by Design. Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD). Buku ini memperkenalkan kerangka Understanding by Design yang berfokus pada desain kurikulum yang berorientasi pada tujuan, sebuah pendekatan yang selaras dengan pembelajaran mendalam.
  • Scott, C. L. (2015). The Futures of Learning 3: What kind of pedagogies for the 21st century? UNESCO. Publikasi ini menganalisis tren pedagogi abad ke-21, termasuk pembelajaran mendalam, dan bagaimana pendekatan tersebut dapat mempersiapkan siswa untuk masa depan.
  • Siegel, D. J. (2010). The Mindful Brain: Reflection and Attunement in the Cultivation of Well-Being. W. W. Norton & Company. Meskipun berfokus pada neurosains, buku ini memberikan fondasi teoretis tentang mindfulness dan hubungannya dengan perkembangan kognitif, yang relevan dengan pembelajaran sadar.

 

CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN BAHASA ARAB MA BERDASARKAN KEPUTUSAN DIRJEN PENDIS NOMOR 9941 TAHUN 2025

Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikembangkan, karena selain menjadi bahasa agama, juga berperan sebagai bahasa intern...