Dalam
tata bahasa Arab, dhamir (ضَمِيرٌ) atau kata ganti merupakan salah satu unsur penting yang
digunakan untuk menggantikan kata benda (isim). Memahami jenis-jenis dhamir
sangatlah krusial, terutama Dlomir Munfashil dan Dlomir Muttashil, agar kita
dapat menyusun kalimat dengan benar. Artikel ini akan mengupas tuntas kedua
jenis dhamir tersebut dengan penjelasan yang detail, contoh-contoh relevan,
serta manfaatnya dalam memahami Al-Qur'an.
1.
Dlomir Munfashil (الضَّمِيرُ الْمُنْفَصِلُ)
Dlomir
Munfashil adalah kata ganti yang berdiri sendiri dan tidak bersambung dengan
kata lain. Ia selalu menempati posisi subjek (mubtada') dalam sebuah kalimat
dan memiliki bentuk yang terpisah dari kata kerja atau kata benda yang
mengikutinya. Dlomir Munfashil terbagi menjadi 14 bentuk, sesuai dengan jumlah
subjek dalam bahasa Arab, yaitu:
|
Dhamir |
Arti |
Contoh
Penggunaan |
Keterangan |
|
هُوَ |
Dia (laki-laki, tunggal) |
هُوَ طَالِبٌ جَدِيدٌ. (Dia adalah
seorang siswa baru.) |
الغائب (pihak ketiga) |
|
هُمَا |
Mereka berdua (laki-laki) |
هُمَا صَدِيقَانِ مِنْ
سُوْرَابَايَا. (Mereka berdua teman dari Surabaya.) |
الغائب (pihak ketiga) |
|
هُمْ |
Mereka (laki-laki, jamak) |
هُمْ مُدَرِّسُونَ جُدُدٌ. (Mereka
adalah para guru baru.) |
الغائب (pihak ketiga) |
|
هِيَ |
Dia (perempuan, tunggal) |
هِيَ مُوَظَّفَةٌ نَشِيطَةٌ. (Dia adalah
seorang pegawai yang rajin.) |
الغائبة (pihak ketiga) |
|
هُمَا |
Mereka berdua (perempuan) |
هُمَا أُخْتَانِ مِنْ جَاكَرْتَا. (Mereka
berdua saudari dari Jakarta.) |
الغائبة (pihak ketiga) |
|
هُنَّ |
Mereka (perempuan, jamak) |
هُنَّ بَنَاتٌ جَمِيْلَاتٌ. (Mereka
adalah gadis-gadis yang cantik.) |
الغائبة (pihak ketiga) |
|
أَنْتَ |
Kamu (laki-laki, tunggal) |
أَنْتَ مُحَمَّدٌ؟ (Apakah kamu
Muhammad?) |
المخاطب (pihak kedua) |
|
أَنْتُمَا |
Kalian berdua
(laki-laki/perempuan) |
أَنْتُمَا أَخَوَانِ؟ (Apakah
kalian berdua bersaudara?) |
المخاطب (pihak kedua) |
|
أَنْتُمْ |
Kalian (laki-laki, jamak) |
أَنْتُمْ زُمَلاَئِيْ فِي الصَّفِّ. (Kalian
adalah teman-temanku di kelas.) |
المخاطب (pihak kedua) |
|
أَنْتِ |
Kamu (perempuan, tunggal) |
أَنْتِ طَالِبَةٌ مُجْتَهِدَةٌ. (Kamu
adalah seorang siswi yang rajin.) |
المخاطبة (pihak kedua) |
|
أَنْتُمَا |
Kalian berdua
(laki-laki/perempuan) |
أَنْتُمَا صَدِيْقَتَانِ؟ (Apakah
kalian berdua berteman?) |
المخاطبة (pihak kedua) |
|
أَنْتُنَّ |
Kalian (perempuan, jamak) |
أَنْتُنَّ مُسْلِمَاتٌ
مُلْتَزِمَاتٌ. (Kalian adalah para Muslimah yang taat.) |
المخاطبة (pihak kedua) |
|
أَنَا |
Saya/Aku |
أَنَا مُدَرِّسٌ جَدِيدٌ. (Saya
adalah seorang guru baru.) |
المتكلم (pihak pertama) |
|
نَحْنُ |
Kami/Kita |
نَحْنُ طُلاَّبٌ فِي هَذِهِ
الْمَدْرَسَةِ. (Kami adalah para siswa di sekolah ini.) |
المتكلم (pihak pertama) |
Ciri-ciri Utama:
- Selalu menjadi subjek (mubtada').
- Tidak pernah bersambung dengan
kata lain.
- Digunakan untuk memulai sebuah
kalimat.
2.
Dlomir Muttashil (الضَّمِيرُ الْمُتَّصِلُ)
Berbeda
dengan Dlomir Munfashil, Dlomir Muttashil adalah kata ganti yang tidak bisa
berdiri sendiri. Ia selalu bersambung dengan kata lain, baik itu kata benda (isim),
kata kerja (fi'il), maupun partikel (harf). Dlomir Muttashil tidak memiliki
bentuk dhamir untuk subjek ana dan nahnu yang berdiri sendiri sebagai subjek.
Ketika Dlomir Muttashil bersambung
dengan kata benda, ia berfungsi sebagai kata ganti kepemilikan (dhamir
idhofah). Perhatikan contoh berikut:
|
Dhamir |
Arti |
Bersambung
dengan Kata Benda (Buku) |
Terjemah |
|
هُ (hu) |
miliknya (L) |
كِتَابُهُ |
bukunya |
|
هُمَا (huma) |
milik mereka berdua (L) |
كِتَابُهُمَا |
buku mereka berdua |
|
هُمْ (hum) |
milik mereka (L) |
كِتَابُهُمْ |
buku mereka |
|
هَا (ha) |
miliknya (P) |
كِتَابُهَا |
bukunya |
|
هُمَا (huma) |
milik mereka berdua (P) |
كِتَابُهُمَا |
buku mereka berdua |
|
هُنَّ (hunna) |
milik mereka (P) |
كِتَابُهُنَّ |
buku mereka |
|
كَ (ka) |
milikmu (L) |
كِتَابُكَ |
bukumu |
|
كُمَا (kuma) |
milik kalian berdua (L/P) |
كِتَابُكُمَا |
buku kalian berdua |
|
كُمْ (kum) |
milik kalian (L) |
كِتَابُكُمْ |
buku kalian |
|
كِ (ki) |
milikmu (P) |
كِتَابُكِ |
bukumu |
|
كُمَا (kuma) |
milik kalian berdua (L/P) |
كِتَابُكُمَا |
buku kalian berdua |
|
كُنَّ (kunna) |
milik kalian (P) |
كِتَابُكُنَّ |
buku kalian |
|
يْ (ya) |
milikku |
كِتَابِيْ |
bukuku |
|
نَا (naa) |
milik kami/kita |
كِتَابُنَا |
buku kami/kita |
Contoh Penggunaan dalam Kalimat
Perkenalan:
- مَا اسْمُكَ؟ (Siapa namamu?
- untuk laki-laki)
- مَا اسْمُكِ؟ (Siapa namamu?
- untuk perempuan)
- هَذَا صَدِيْقِيْ، اِسْمُهُ
عُمَرُ. (Ini temanku, namanya Umar.)
- هَذِهِ صَدِيْقَتِيْ، اِسْمُهَا
زَيْنَبُ. (Ini temanku, namanya Zainab.)
- كَيْفَ حَالُكَ؟
(Bagaimana kabarmu? - untuk laki-laki)
3.
Manfaat Mengetahui Dhamir dalam Penerjemahan dan Penafsiran Al-Qur'an
Pemahaman
yang tepat terhadap Dhamir (Munfashil dan Muttashil) memiliki peran yang sangat
fundamental dalam memahami makna Al-Qur'an. Kesalahan dalam mengidentifikasi dhamir
dan rujukannya (marji' ad-dhamir) dapat mengubah makna sebuah ayat secara
drastis.
Kaidah Penafsiran tentang Dhamir: Para ulama ushul fiqh dan tafsir telah menetapkan
kaidah-kaidah khusus terkait dhamir, di antaranya:
- Al-dhamir ya'ud ila aqrabi
madzkur (الضَّمِيرُ يَعُوْدُ إِلَى أَقْرَبِ
مَذْكُورٍ): Dhamir merujuk pada kata yang
paling dekat disebutkan sebelumnya. Ini adalah kaidah dasar yang menjadi
acuan utama, kecuali ada indikasi lain yang lebih kuat.
- Jika terjadi kerancuan (iltibas),
maka rujukan dhamir harus dijelaskan. Jika dhamir bisa merujuk pada dua hal yang berbeda,
mufassir harus mencari indikasi dari konteks ayat, bahasa, atau riwayat
hadits untuk menentukan rujukan yang benar.
Contoh Penggunaan dalam Al-Qur'an:
1.
Dhamir
Munfashil untuk Penekanan
o
Surat
Al-Fatihah, ayat 5: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ
o Dalam ayat ini, dhamir munfashil iyyaaka
(hanya kepada-Mu) ditempatkan di awal kalimat. Posisi ini memberikan penekanan
yang sangat kuat, menegaskan bahwa ibadah dan permohonan pertolongan hanya
ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada yang lain. Jika menggunakan dhamir
muttashil (misalnya, na'buduka), penekanan ini akan hilang.
2.
Dhamir
Muttashil dan Rujukannya (Marji' ad-Dhamir)
o
Surat
Al-Ikhlas, ayat 1-2: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ
الصَّمَدُ.
o Pada ayat ini, dhamir munfashil Huwa
(Dia) merujuk pada Allah (Allahu) yang akan disebutkan setelahnya. Namun,
rujukan dhamir yang paling sering terjadi adalah kepada kata yang sudah
disebutkan sebelumnya.
o
Surat
Al-Qadr, ayat 1: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ.
o Dhamir muttashil hu (هُ) pada
kata anzalnaahu (Kami menurunkannya) merujuk kepada Al-Qur'an yang tidak
disebutkan secara eksplisit di ayat tersebut, namun dipahami dari konteks surat
dan keseluruhan Al-Qur'an. Pemahaman dhamir di sini sangat esensial untuk mengetahui
apa yang diturunkan pada malam Lailatul Qadr.
Dengan
demikian, menguasai kaidah dhamir tidak hanya membantu dalam percakapan
sehari-hari, tetapi juga menjadi kunci utama untuk membuka kedalaman makna
Al-Qur'an, memastikan penerjemahan yang akurat, dan menafsirkan ayat sesuai
dengan maksud yang dikehendaki oleh Allah SWT.