Selasa, 12 Agustus 2025

Mengenal Dlomir Munfashil dan Dlomir Muttashil dalam Bahasa Arab

 

Dalam tata bahasa Arab, dhamir (ضَمِيرٌ) atau kata ganti merupakan salah satu unsur penting yang digunakan untuk menggantikan kata benda (isim). Memahami jenis-jenis dhamir sangatlah krusial, terutama Dlomir Munfashil dan Dlomir Muttashil, agar kita dapat menyusun kalimat dengan benar. Artikel ini akan mengupas tuntas kedua jenis dhamir tersebut dengan penjelasan yang detail, contoh-contoh relevan, serta manfaatnya dalam memahami Al-Qur'an.

1. Dlomir Munfashil (الضَّمِيرُ الْمُنْفَصِلُ)

Dlomir Munfashil adalah kata ganti yang berdiri sendiri dan tidak bersambung dengan kata lain. Ia selalu menempati posisi subjek (mubtada') dalam sebuah kalimat dan memiliki bentuk yang terpisah dari kata kerja atau kata benda yang mengikutinya. Dlomir Munfashil terbagi menjadi 14 bentuk, sesuai dengan jumlah subjek dalam bahasa Arab, yaitu:

Dhamir

Arti

Contoh Penggunaan

Keterangan

هُوَ

Dia (laki-laki, tunggal)

هُوَ طَالِبٌ جَدِيدٌ. (Dia adalah seorang siswa baru.)

الغائب (pihak ketiga)

هُمَا

Mereka berdua (laki-laki)

هُمَا صَدِيقَانِ مِنْ سُوْرَابَايَا. (Mereka berdua teman dari Surabaya.)

الغائب (pihak ketiga)

هُمْ

Mereka (laki-laki, jamak)

هُمْ مُدَرِّسُونَ جُدُدٌ. (Mereka adalah para guru baru.)

الغائب (pihak ketiga)

هِيَ

Dia (perempuan, tunggal)

هِيَ مُوَظَّفَةٌ نَشِيطَةٌ. (Dia adalah seorang pegawai yang rajin.)

الغائبة (pihak ketiga)

هُمَا

Mereka berdua (perempuan)

هُمَا أُخْتَانِ مِنْ جَاكَرْتَا. (Mereka berdua saudari dari Jakarta.)

الغائبة (pihak ketiga)

هُنَّ

Mereka (perempuan, jamak)

هُنَّ بَنَاتٌ جَمِيْلَاتٌ. (Mereka adalah gadis-gadis yang cantik.)

الغائبة (pihak ketiga)

أَنْتَ

Kamu (laki-laki, tunggal)

أَنْتَ مُحَمَّدٌ؟ (Apakah kamu Muhammad?)

المخاطب (pihak kedua)

أَنْتُمَا

Kalian berdua (laki-laki/perempuan)

أَنْتُمَا أَخَوَانِ؟ (Apakah kalian berdua bersaudara?)

المخاطب (pihak kedua)

أَنْتُمْ

Kalian (laki-laki, jamak)

أَنْتُمْ زُمَلاَئِيْ فِي الصَّفِّ. (Kalian adalah teman-temanku di kelas.)

المخاطب (pihak kedua)

أَنْتِ

Kamu (perempuan, tunggal)

أَنْتِ طَالِبَةٌ مُجْتَهِدَةٌ. (Kamu adalah seorang siswi yang rajin.)

المخاطبة (pihak kedua)

أَنْتُمَا

Kalian berdua (laki-laki/perempuan)

أَنْتُمَا صَدِيْقَتَانِ؟ (Apakah kalian berdua berteman?)

المخاطبة (pihak kedua)

أَنْتُنَّ

Kalian (perempuan, jamak)

أَنْتُنَّ مُسْلِمَاتٌ مُلْتَزِمَاتٌ. (Kalian adalah para Muslimah yang taat.)

المخاطبة (pihak kedua)

أَنَا

Saya/Aku

أَنَا مُدَرِّسٌ جَدِيدٌ. (Saya adalah seorang guru baru.)

المتكلم (pihak pertama)

نَحْنُ

Kami/Kita

نَحْنُ طُلاَّبٌ فِي هَذِهِ الْمَدْرَسَةِ. (Kami adalah para siswa di sekolah ini.)

المتكلم (pihak pertama)


Ciri-ciri Utama:

  • Selalu menjadi subjek (mubtada').
  • Tidak pernah bersambung dengan kata lain.
  • Digunakan untuk memulai sebuah kalimat.

2. Dlomir Muttashil (الضَّمِيرُ الْمُتَّصِلُ)

Berbeda dengan Dlomir Munfashil, Dlomir Muttashil adalah kata ganti yang tidak bisa berdiri sendiri. Ia selalu bersambung dengan kata lain, baik itu kata benda (isim), kata kerja (fi'il), maupun partikel (harf). Dlomir Muttashil tidak memiliki bentuk dhamir untuk subjek ana dan nahnu yang berdiri sendiri sebagai subjek.

Ketika Dlomir Muttashil bersambung dengan kata benda, ia berfungsi sebagai kata ganti kepemilikan (dhamir idhofah). Perhatikan contoh berikut:

Dhamir

Arti

Bersambung dengan Kata Benda (Buku)

Terjemah

هُ (hu)

miliknya (L)

كِتَابُهُ

bukunya

هُمَا (huma)

milik mereka berdua (L)

كِتَابُهُمَا

buku mereka berdua

هُمْ (hum)

milik mereka (L)

كِتَابُهُمْ

buku mereka

هَا (ha)

miliknya (P)

كِتَابُهَا

bukunya

هُمَا (huma)

milik mereka berdua (P)

كِتَابُهُمَا

buku mereka berdua

هُنَّ (hunna)

milik mereka (P)

كِتَابُهُنَّ

buku mereka

كَ (ka)

milikmu (L)

كِتَابُكَ

bukumu

كُمَا (kuma)

milik kalian berdua (L/P)

كِتَابُكُمَا

buku kalian berdua

كُمْ (kum)

milik kalian (L)

كِتَابُكُمْ

buku kalian

كِ (ki)

milikmu (P)

كِتَابُكِ

bukumu

كُمَا (kuma)

milik kalian berdua (L/P)

كِتَابُكُمَا

buku kalian berdua

كُنَّ (kunna)

milik kalian (P)

كِتَابُكُنَّ

buku kalian

يْ (ya)

milikku

كِتَابِيْ

bukuku

نَا (naa)

milik kami/kita

كِتَابُنَا

buku kami/kita

Contoh Penggunaan dalam Kalimat Perkenalan:

  • مَا اسْمُكَ؟ (Siapa namamu? - untuk laki-laki)
  • مَا اسْمُكِ؟ (Siapa namamu? - untuk perempuan)
  • هَذَا صَدِيْقِيْ، اِسْمُهُ عُمَرُ. (Ini temanku, namanya Umar.)
  • هَذِهِ صَدِيْقَتِيْ، اِسْمُهَا زَيْنَبُ. (Ini temanku, namanya Zainab.)
  • كَيْفَ حَالُكَ؟ (Bagaimana kabarmu? - untuk laki-laki)

3. Manfaat Mengetahui Dhamir dalam Penerjemahan dan Penafsiran Al-Qur'an

Pemahaman yang tepat terhadap Dhamir (Munfashil dan Muttashil) memiliki peran yang sangat fundamental dalam memahami makna Al-Qur'an. Kesalahan dalam mengidentifikasi dhamir dan rujukannya (marji' ad-dhamir) dapat mengubah makna sebuah ayat secara drastis.

Kaidah Penafsiran tentang Dhamir: Para ulama ushul fiqh dan tafsir telah menetapkan kaidah-kaidah khusus terkait dhamir, di antaranya:

  • Al-dhamir ya'ud ila aqrabi madzkur (الضَّمِيرُ يَعُوْدُ إِلَى أَقْرَبِ مَذْكُورٍ): Dhamir merujuk pada kata yang paling dekat disebutkan sebelumnya. Ini adalah kaidah dasar yang menjadi acuan utama, kecuali ada indikasi lain yang lebih kuat.
  • Jika terjadi kerancuan (iltibas), maka rujukan dhamir harus dijelaskan. Jika dhamir bisa merujuk pada dua hal yang berbeda, mufassir harus mencari indikasi dari konteks ayat, bahasa, atau riwayat hadits untuk menentukan rujukan yang benar.

Contoh Penggunaan dalam Al-Qur'an:

1.     Dhamir Munfashil untuk Penekanan

o    Surat Al-Fatihah, ayat 5: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

o    Dalam ayat ini, dhamir munfashil iyyaaka (hanya kepada-Mu) ditempatkan di awal kalimat. Posisi ini memberikan penekanan yang sangat kuat, menegaskan bahwa ibadah dan permohonan pertolongan hanya ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada yang lain. Jika menggunakan dhamir muttashil (misalnya, na'buduka), penekanan ini akan hilang.

2.     Dhamir Muttashil dan Rujukannya (Marji' ad-Dhamir)

o    Surat Al-Ikhlas, ayat 1-2: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ.

o    Pada ayat ini, dhamir munfashil Huwa (Dia) merujuk pada Allah (Allahu) yang akan disebutkan setelahnya. Namun, rujukan dhamir yang paling sering terjadi adalah kepada kata yang sudah disebutkan sebelumnya.

o    Surat Al-Qadr, ayat 1: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ.

o    Dhamir muttashil hu (هُ) pada kata anzalnaahu (Kami menurunkannya) merujuk kepada Al-Qur'an yang tidak disebutkan secara eksplisit di ayat tersebut, namun dipahami dari konteks surat dan keseluruhan Al-Qur'an. Pemahaman dhamir di sini sangat esensial untuk mengetahui apa yang diturunkan pada malam Lailatul Qadr.

Dengan demikian, menguasai kaidah dhamir tidak hanya membantu dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga menjadi kunci utama untuk membuka kedalaman makna Al-Qur'an, memastikan penerjemahan yang akurat, dan menafsirkan ayat sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN BAHASA ARAB MA BERDASARKAN KEPUTUSAN DIRJEN PENDIS NOMOR 9941 TAHUN 2025

Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikembangkan, karena selain menjadi bahasa agama, juga berperan sebagai bahasa intern...