Senin, 04 Agustus 2025

Merawat Toleransi di Madrasah: Belajar dari Para Imam Mazhab

 

Moderasi beragama seringkali diasosiasikan dengan hubungan antar-umat beragama. Padahal, bagi kita di madrasah, tantangan yang lebih dekat dan nyata adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan pandangan di antara sesama umat Islam.

Perpecahan yang terjadi di masyarakat sering kali berawal dari perbedaan pemahaman keagamaan yang dianggap sebagai satu-satunya kebenaran. Alih-alih saling memahami, tak jarang kita melihat perdebatan yang berujung pada saling menyalahkan. Inilah mengapa toleransi dan saling memahami antar-kelompok pemahaman dalam Islam menjadi isu yang sangat penting untuk dibahas di lingkungan madrasah.

Belajar dari Kekayaan Mazhab

Para pendiri mazhab fikih seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal adalah contoh nyata dari moderasi beragama. Mereka hidup di era yang dinamis dengan beragam pandangan dan interpretasi atas teks-teks keagamaan. Namun, alih-alih saling meniadakan, mereka justru menunjukkan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan.

Contohnya, dalam menentukan suatu hukum, para imam ini seringkali menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda. Perbedaan ini tidak lantas membuat mereka saling membid'ahkan atau menuduh sesat. Sebaliknya, mereka menyadari bahwa perbedaan interpretasi adalah keniscayaan dalam upaya memahami ajaran agama yang begitu luas.

Bagi para siswa madrasah, kekayaan mazhab ini seharusnya tidak dipandang sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai sebuah rahmat (nikmat). Keberagaman pemahaman adalah bukti bahwa akal manusia diberi ruang yang luas untuk berijtihad (mencurahkan segenap kemampuan untuk menetapkan hukum Islam).

Pentingnya Memahami Konteks dan Dalil

Dalam madrasah, kita diajarkan untuk tidak hanya menghafal hukum, tetapi juga memahami dalil (dasar hukum) dan konteks di baliknya. Ketika kita hanya berpegang pada satu dalil tanpa melihat dalil lain atau tanpa memahami konteks sejarah dan sosial, maka kita akan cenderung memutlakkan satu pendapat dan menyalahkan yang lain.

Belajar dari para imam mazhab, kita diajarkan untuk bersikap terbuka dan tidak tergesa-gesa dalam menghakimi. Mereka menunjukkan bahwa sebuah masalah bisa memiliki lebih dari satu solusi, dan setiap solusi tersebut bisa jadi benar berdasarkan dalil yang digunakan.

Praktik Moderasi di Sekolah

Di lingkungan madrasah, semangat moderasi ini bisa dipraktikkan dalam kegiatan sehari-hari. Diskusi tentang perbedaan pandangan dalam ibadah atau praktik keagamaan seharusnya menjadi ajang untuk saling bertukar pengetahuan, bukan untuk berdebat. Guru bisa menjadi fasilitator yang mengajarkan siswa untuk menghargai perbedaan, bukan menghakiminya.

Dengan demikian, moderasi beragama di madrasah tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi bagian integral dari pendidikan karakter. Para siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang berwawasan luas, toleran, dan mampu menghargai perbedaan, baik di antara sesama muslim maupun dengan umat beragama lain.

Dengan meneladani para imam mazhab, kita bisa menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan toleransi, bukan hanya kepada pihak di luar, tetapi juga kepada sesama penganutnya. Ini adalah fondasi yang kokoh untuk membangun masyarakat yang harmonis dan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN BAHASA ARAB MA BERDASARKAN KEPUTUSAN DIRJEN PENDIS NOMOR 9941 TAHUN 2025

Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikembangkan, karena selain menjadi bahasa agama, juga berperan sebagai bahasa intern...