Abstrak
Artikel ini mengkaji secara mendalam
konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam pendidikan Islam, dengan menelusuri
landasan filosofis-teologisnya yang berakar pada Asma Allah Ar-Rahman dan
Ar-Rahim. Pembahasan meliputi definisi dan implikasi kedua Asma tersebut
sebagai fondasi kasih sayang universal dan spesifik. Selanjutnya, artikel ini
menguraikan implementasi KBC melalui lima pilar cinta: Hubbulloh wa
Hubburrasul, Hubbul 'Ilmi, Hubbun Nafsi wan Nas, Hubbul Bi_ah, dan Hubbul
Wathon, dengan menyajikan strategi pedagogis dan contoh implementasi praktis.
Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana KBC dapat membentuk individu
yang seimbang, berkarakter mulia, dan berkontribusi positif bagi masyarakat dan
lingkungan, serta menyoroti tantangan dan prospeknya di masa depan.
1. Pendahuluan
Latar Belakang:
Urgensi Pendidikan Karakter dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Era
Kontemporer
Pendidikan Islam dihadapkan pada
serangkaian tantangan kompleks di era modern, termasuk dampak globalisasi,
pluralisme agama, dan laju perubahan sosial yang begitu cepat. Lingkungan yang
dinamis ini menimbulkan kekhawatiran serius akan penurunan karakter di kalangan
lulusan pendidikan tinggi , serta kemunculan sikap intoleran dan radikalisme di
kalangan siswa. Realitas ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan suatu
pendekatan pendidikan yang lebih komprehensif dan adaptif, yang tidak hanya
berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral.
Menanggapi kebutuhan ini, Kurikulum
Berbasis Cinta (KBC) muncul sebagai sebuah gagasan inovatif. KBC dirancang
untuk membangun sistem pendidikan yang berorientasi pada kasih sayang dan
kemanusiaan, dengan tujuan utama mencetak individu yang memiliki hati penuh
kasih, bertanggung jawab secara sosial, dan siap menyongsong masa depan dengan
semangat cinta dan kemanusiaan. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag
RI) telah menginisiasi penerapan Kurikulum Cinta ini sebagai respons strategis
terhadap kebutuhan inovasi dalam pendidikan karakter yang lebih integratif dan
sistematis.
Visi KBC melampaui batas-batas lokal.
Kurikulum ini tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah-masalah
kemanusiaan di tingkat lokal, tetapi juga dipandang memiliki peluang besar
untuk memberikan kontribusi signifikan dalam penyelesaian tantangan global.
Melalui pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai cinta dan toleransi ke
dalam setiap aspek pembelajaran, KBC menawarkan solusi potensial untuk berbagai
konflik sosial, diskriminasi, dan ketidakadilan yang masih melanda berbagai
belahan dunia. Ini menunjukkan ambisi KBC yang luas dan relevansinya dalam
konteks global.
Tujuan Penulisan
Artikel: Menganalisis Landasan Filosofis-Teologis dan Implementasi KBC
Artikel ini bertujuan untuk
menganalisis secara komprehensif landasan filosofis-teologis Kurikulum Berbasis
Cinta (KBC) yang bersumber dari Asma Allah, khususnya Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Selain itu, artikel ini akan menguraikan strategi implementasi KBC melalui lima
pilar cinta yang diusulkan, yaitu Hubbulloh wa Hubburrasul, Hubbul 'Ilmi,
Hubbun Nafsi wan Nas, Hubbul Bi'ah, dan Hubbul Wathon, serta implikasi
pedagogisnya dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia.
2. Landasan
Filosofis-Teologis Kurikulum Berbasis Cinta: Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim
Konsep Kasih Sayang
Universal (Ar-Rahman) dan Kasih Sayang Spesifik (Ar-Rahim) dalam Islam
Dalam ajaran Islam, Asma Allah
Ar-Rahman dan Ar-Rahim merupakan dua dari nama-nama agung yang secara
fundamental menggambarkan sifat kasih sayang Allah SWT. Ar-Rahman melambangkan
kasih sayang Allah yang tak terbatas dan menyeluruh, meliputi seluruh ciptaan
di dunia ini, baik bagi mukmin maupun kafir. Rahmat ini bersifat umum,
termanifestasi dalam pemberian nikmat dasar seperti sinar matahari, hujan, dan
keberlangsungan hidup bagi semua makhluk tanpa diskriminasi. Keagungan sifat
ini bahkan diabadikan sebagai nama surah ke-55 dalam Al-Qur'an, yaitu Surah
Ar-Rahman.
Sementara itu, Ar-Rahim mencerminkan kasih sayang Allah yang eksklusif dan spesifik, yang secara khusus ditujukan bagi orang-orang beriman di akhirat. Rahmat ini merupakan balasan atas penggunaan karunia-Nya dengan keyakinan penuh dan pelaksanaan amal saleh yang diridhai-Nya. Pemahaman tentang Ar-Rahim ini memotivasi orang beriman untuk melakukan perbuatan baik secara tulus, dengan harapan akan balasan yang berlipat ganda di akhirat kelak. Ini mendorong individu untuk tidak hanya memiliki keyakinan formal, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata dan perilaku sehari-hari, sebuah konsep yang dikenal sebagai orthopraxy.
Implikasi Teologis
Ar-Rahman dan Ar-Rahim sebagai Fondasi Pendidikan Berbasis Kasih Sayang
Pendidikan Islam yang berlandaskan pada
Ar-Rahman dan Ar-Rahim menegaskan bahwa kasih sayang adalah inti dari banyak
ajaran spiritual. Kasih sayang Allah yang universal (Ar-Rahman) mendorong
manusia untuk mengembangkan empati, toleransi, dan kasih sayang terhadap semua
makhluk, tanpa memandang perbedaan keyakinan, ras, atau latar belakang. Hal ini
sejalan dengan tujuan utama KBC untuk menciptakan masyarakat yang lebih
inklusif dan harmonis, di mana keberagaman dihargai sebagai manifestasi rahmat
ilahi.
Kasih sayang yang spesifik (Ar-Rahim) memotivasi orang beriman untuk melakukan amal saleh dan berbuat kebaikan secara tulus, karena balasan terbaik ada di akhirat. Ini membentuk karakter yang berorientasi pada tindakan nyata (orthopraxy) daripada sekadar keyakinan formal (orthodoxy), di mana keimanan terwujud dalam perilaku sehari-hari yang penuh kasih sayang dan kedermawanan.
Prinsip Ar-Rahman dan Ar-Rahim juga
mengandung keseimbangan antara rahmat dan keadilan (Al-Adlu), di mana keadilan
dipandang sebagai bentuk tertinggi dari kasih sayang. Apabila sebuah kurikulum
benar-benar berlandaskan pada kasih sayang ilahi, ia tidak dapat bersifat lunak
atau permisif semata. Sebaliknya, ia harus menanamkan rasa keadilan, kejujuran,
dan tanggung jawab yang kuat. Ini berarti bahwa pendidikan harus membimbing
siswa tidak hanya untuk bersikap baik, tetapi juga untuk berlaku adil,
menjunjung tinggi hak-hak orang lain, memperbaiki kesalahan, dan memahami
konsekuensi dari setiap tindakan, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat
luas. Keseimbangan antara rahmat dan keadilan ini memastikan bahwa
"cinta" yang diajarkan dalam kurikulum tidak bersifat sentimental,
melainkan kokoh, berlandaskan prinsip-prinsip etika yang kuat, dan mampu
mengatasi masalah-masalah dunia nyata seperti ketidakadilan sosial dan
degradasi lingkungan. Implikasinya adalah bahwa disiplin, akuntabilitas, dan
kemampuan berpikir kritis—yang esensial untuk memahami dan menerapkan
keadilan—merupakan komponen integral dari kurikulum berbasis cinta, bukan
elemen yang bertentangan dengannya.
Keterkaitan dengan
Landasan Filosofis (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi) Pendidikan Islam
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) memiliki
keterkaitan erat dengan landasan filosofis pendidikan Islam, yaitu ontologi,
epistemologi, dan aksiologi, yang semuanya diperkuat oleh konsep Ar-Rahman dan
Ar-Rahim.
Ontologi KBC: KBC secara fundamental mengatasi masalah ontologis yang kerap terjadi di era modern, yaitu hilangnya kesadaran akan hakikat realitas yang tunggal dan saling terhubung. Dalam pandangan modern, cenderung terjadi fragmentasi di mana segala sesuatu dilihat secara terpisah, mengabaikan jalinan erat yang mengikat seluruh eksistensi. Berdasarkan prinsip Ar-Rahman, KBC mengajarkan bahwa seluruh komponen alam semesta, termasuk manusia, adalah satu kesatuan entitas yang saling terhubung dalam jaring-jaring kasih sayang ilahi. Pemahaman ini mendorong pengembangan empati, kerja sama, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama dan alam. Dalam konteks pendidikan Islam, manusia dipandang sebagai khalifah di bumi, yang diciptakan dengan tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan antara tugas duniawi dan akhirat.
Epistemologi KBC: KBC juga mengatasi
masalah epistemologis yang muncul sebagai dampak langsung dari hilangnya cinta,
yaitu kegagalan manusia untuk meraih pengetahuan secara holistik. Tanpa
landasan cinta yang menghubungkan, pengetahuan cenderung menjadi terkotak-kotak
atau atomistik. Filsafat ilmu Islam mengajarkan bahwa semua ilmu, baik yang
bersifat duniawi maupun ukhrawi, pada dasarnya berasal dari Allah dan
seharusnya saling melengkapi. Pandangan ini membentuk kerangka berpikir yang
kritis, reflektif, luas, dan inklusif, yang sejalan dengan konsep
fitrah sebagai potensi
bawaan manusia untuk Tawhid dan pengetahuan.
Kurikulum Berbasis Cinta, dengan
mendasarkan dirinya pada Ar-Rahman dan Ar-Rahim, secara implisit menawarkan
narasi tandingan terhadap kecenderungan reduksionis pemikiran sekuler modern.
Jika semua ciptaan saling terhubung melalui rahmat universal Allah (Ar-Rahman),
maka pengetahuan tentang ciptaan itu (epistemologi) juga harus terintegrasi dan
holistik, bukan terfragmentasi menjadi disiplin ilmu yang terisolasi. Ini
menyiratkan bahwa KBC bukan sekadar tambahan pada kurikulum yang ada, tetapi
menuntut pergeseran fundamental dalam cara pengetahuan distrukturkan,
diajarkan, dan dipahami. Pergeseran ini bergerak dari pandangan yang
terkotak-kotak menuju pandangan dunia yang terintegrasi dan saling terhubung,
di mana domain spiritual, moral, dan intelektual tidak dapat dipisahkan. Hal
ini memiliki implikasi mendalam untuk desain kurikulum, pelatihan guru, dan bahkan
arsitektur sekolah, yang semuanya harus mencerminkan keterhubungan ini.
Aksiologi KBC: Nilai-nilai yang diutamakan dalam KBC, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan etika, menjadi fokus utama dalam seluruh proses pendidikan. Hal ini sejalan dengan tujuan pembentukan karakter mulia (al-akhlaq al-karimah) yang merupakan esensi dari ajaran Islam. KBC secara eksplisit bertujuan melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, dan toleran, yang mencerminkan nilai-nilai universal yang dipegang teguh dalam Islam.
3. Implementasi Lima
Pilar Cinta dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)
diimplementasikan melalui lima pilar cinta yang saling terkait, yang
masing-masing berakar pada Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Berikut adalah
tabel yang merangkum dimensi-dimensi cinta ini dan relevansinya dengan
sifat-sifat kasih sayang Allah:
Tabel 1: Dimensi Cinta dalam Kurikulum
Berbasis Cinta dan Relevansinya dengan Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim
|
Pilar Cinta |
Definisi Singkat |
Relevansi dengan Ar-Rahman |
Relevansi dengan Ar-Rahim |
|
Hubbulloh
wa Hubburrasul |
Mencintai
Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai landasan spiritual dan ketaatan. |
Mengakui
kasih sayang universal Allah yang menciptakan dan memelihara semua makhluk,
menumbuhkan rasa syukur dan ketaatan. |
Memotivasi
ibadah dan amal saleh sebagai bentuk respons terhadap kasih sayang spesifik
Allah kepada orang beriman, mengharapkan balasan di akhirat. |
|
Hubbul
'Ilmi |
Mencintai
ilmu pengetahuan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan
meningkatkan kualitas hidup. |
Ilmu
sebagai manifestasi rahmat Allah yang diberikan kepada seluruh manusia untuk
memahami ciptaan-Nya. |
Pencarian
ilmu yang bermanfaat dan aplikatif untuk kebaikan diri dan umat, sebagai
bentuk ibadah dan amal yang diridhai Allah. |
|
Hubbun
Nafsi wan Nas |
Mencintai
diri sendiri dan sesama manusia, tanpa memandang perbedaan, serta
mengembangkan empati dan toleransi. |
Mengakui
bahwa semua manusia adalah ciptaan Allah yang berhak atas kasih sayang
universal-Nya, mendorong penghormatan terhadap keberagaman. |
Mendorong
perbuatan baik, kasih sayang, dan keadilan sosial kepada sesama sebagai bukti
keimanan dan harapan akan balasan baik di akhirat. |
|
Hubbul
Bi'ah |
Mencintai
dan menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung
jawab moral. |
Lingkungan
sebagai karunia dan manifestasi rahmat universal Allah yang harus dijaga dan
dimanfaatkan secara bertanggung jawab. |
Memotivasi
tindakan nyata dalam pelestarian lingkungan sebagai amal saleh yang akan
dibalas di dunia dan akhirat. |
|
Hubbul
Wathon |
Mencintai
tanah air dan bangsa sebagai bagian dari iman, serta kewajiban untuk membela
dan membangun negara. |
Kasih
sayang Allah yang melingkupi seluruh bumi dan bangsa, mendorong rasa syukur
atas karunia tanah air dan kewajiban menjaganya. |
Mendorong
pengorbanan dan kontribusi nyata untuk kemajuan bangsa sebagai bentuk ibadah
dan manifestasi keimanan yang akan mendapatkan ganjaran. |
3.1. Hubbulloh wa Hubburrasul (Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya)
Pilar pertama dan paling fundamental dalam KBC adalah penanaman cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Pilar ini menjadi fondasi utama yang menekankan pembangunan hubungan yang kuat dengan Allah (Hablum Minallah) sejak usia dini. KBC berupaya menanamkan keyakinan yang bersih (Salimul Aqidah) akan Allah sebagai pencipta, pemilik, pemelihara, dan penguasa alam semesta, serta menjauhkan siswa dari bid'ah, khurafat, dan syirik. Ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam secara umum untuk membentuk individu yang beriman dan bertakwa.
Implementasi pilar ini mencakup pembiasaan ibadah yang benar (Shahihul Ibadah) seperti shalat, puasa, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan doa sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah. Lebih dari itu, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya diwujudkan melalui budaya sekolah yang terintegrasi, sepertimuroja'ah harian (hafalan), shalat Dhuha dan Dhuhur berjamaah, serta membaca surat-surat pendek Al-Qur'an sebelum memulai pembelajaran. Dalam konteks ini, peran guru sangat sentral. Guru tidak hanya menjadi fasilitator materi, tetapi juga sebagai "montir spiritual" yang memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki logika yang bengkok dan batin yang kropos pada diri siswa. Ini berarti guru harus mampu mentransformasikan kepintaran kepada murid dengan sentuhan spiritualisasi yang mendalam.
Penekanan pada "Aqidah yang
bersih" dan "Ibadah yang benar" yang dikombinasikan dengan
analogi guru sebagai "montir spiritual" menunjukkan bahwa Hubbulloh
wa Hubburrasul melampaui sekadar pelaksanaan ritual secara hafalan atau
mekanis. Tujuannya lebih dalam: menginternalisasi praktik-praktik keagamaan ini
sehingga membentuk karakter, kompas moral, dan bahkan proses kognitif siswa.
Ini adalah tentang menumbuhkan cinta dan kesadaran yang tulus terhadap Tuhan
yang meresapi semua aspek kehidupan, mengubah tindakan eksternal menjadi
kebajikan internal, bukan hanya memenuhi kewajiban agama. Proses ini merupakan
pergerakan dari kepatuhan perilaku menuju pembentukan spiritual yang sejati, di
mana setiap tindakan didasari oleh kesadaran akan kehadiran dan kasih sayang
Allah.
3.2. Hubbul 'Ilmi
(Cinta kepada Ilmu Pengetahuan)
Pilar Hubbul 'Ilmi dalam KBC berakar pada pemahaman bahwa manusia dilahirkan dengan fitrah—potensi bawaan berupa Tawhid dan kemampuan untuk mengetahui. Pendidikan harus menjaga fitrah hanif ini dengan membimbing siswa untuk memahami esensi hidup dan tujuan penciptaan melalui ilmu. Dalam pandangan Islam, mencari ilmu dipandang sebagai bagian integral dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.
KBC bertujuan membentuk siswa yang
cerdas dan berpengetahuan (Mutsaqqaful Fikri), yang memiliki kemampuan
berpikir kritis, logis, sistematis, dan kreatif. Filsafat ilmu Islam mendorong
siswa untuk memahami bahwa semua pengetahuan, baik yang bersifat duniawi maupun
ukhrawi, pada dasarnya berasal dari Allah dan harus saling melengkapi. Konsep
ini membantu menciptakan pendidikan yang holistik, di mana siswa dilatih untuk
berpikir kritis, reflektif, dan berkontribusi secara positif. Sastra, misalnya,
dapat menjadi alat yang krusial untuk mengasah kemampuan berpikir kritis siswa
dengan mengekspos mereka pada beragam perspektif, karakter, dan makna mendalam
dalam cerita.
Implikasi pedagogis dari pilar ini sangat beragam. Dalam pendidikan anak usia dini, metode hikmah (literasi dan keteladanan, seperti hafalan dan pengajian), mau'idhoh (penyampaian pesan dan penalaran), dan mujadalah bi al-ihsan (diskusi dengan cara terbaik) digunakan untuk membantu anak memanfaatkan indra, akal, dan wahyu dalam memahami bimbingan ilahi. Kurikulum juga harus menyeimbangkan antara teori dan praktik, serta memberikan kebebasan bagi peserta didik untuk berkreasi dan mengambil inisiatif dalam batas-batas al-akhlaq al-karimah (akhlak mulia).
Pilar Hubbul Ilmi sebagai pencarian
ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan pengembangan berpikir kritis
menunjukkan bahwa pilar ini bukan sekadar mengumpulkan fakta atau mengembangkan
kecakapan intelektual demi dirinya sendiri. Ini adalah tentang menggunakan ilmu
sebagai alat untuk memahami rahmat universal Allah (Ar-Rahman) yang terbukti
dalam ciptaan-Nya, dan untuk memenuhi peran seseorang sebagai
khalifah (wakil Allah) di
Bumi. Aspek berpikir kritis sangat penting karena memungkinkan siswa untuk
membedakan kebenaran, menerapkan ilmu secara etis, dan berkontribusi kepada
masyarakat, yang kemudian menjadi tindakan ibadah yang mendapatkan rahmat
khusus Allah (Ar-Rahim). Dengan demikian, akuisisi ilmu adalah proses dinamis
penemuan dan penerapan, didorong oleh rasa syukur atas berkah universal dan
aspirasi untuk pahala ilahi.
3.3. Hubbun Nafsi wan
Nas (Cinta kepada Diri dan Sesama Manusia)
Pilar Hubbun Nafsi wan Nas dalam KBC fokus pada pembentukan pribadi yang matang (Matinul Khuluq) dan bermanfaat bagi orang lain (Nafi'un Lighoirihi). Kurikulum ini bertujuan untuk mengembangkan individu yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, peduli, sabar, gigih, dan berani dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Selain itu, pilar ini juga mencakup kemampuan untuk menjadi mandiri (Qadirun alal Kasbi) dalam memenuhi kebutuhan hidup , serta memiliki kepekaan dan keterampilan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Secara eksplisit, KBC bertujuan membangun cinta kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama, ras, atau latar belakang (Hablum Minannas), serta membiasakan anak-anak dengan keberagaman. Konsep Ar-Rahman mendorong penghargaan terhadap keberagaman, memfasilitasi dialog antaragama, membantu menghindari sikap eksklusif, dan memotivasi kerja sama dalam isu-isu kemanusiaan lintas agama. KBC diharapkan melahirkan generasi yang lebih toleran, inklusif, dan penuh kasih sayang, yang pada akhirnya akan mewujudkan masyarakat yang harmonis dalam keberagaman. Hal ini sejalan dengan profil pelajar Rahmatan lil Alamin yang menekankan kesetaraan (musāwah) dan toleransi (tasāmuh) sebagai nilai-nilai inti.
Pengembangan moral siswa dalam pilar
ini melibatkan pemahaman nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab,
keadilan, empati, dan rasa hormat. Ini juga mencakup pengembangan penalaran
moral, pembentukan perilaku moral yang konsisten, dan pemahaman yang mendalam
tentang konteks sosial. KBC juga menekankan pengembangan aspek sosial siswa, termasuk
kemampuan interaksi, kerja sama, adaptasi sosial, manajemen emosi, dan
peningkatan empati yang signifikan.
Penekanan berulang pada toleransi dan
dialog antaragama, yang secara langsung terkait dengan rahmat universal
Ar-Rahman, menempatkan KBC sebagai alat yang ampuh untuk menumbuhkan moderasi
beragama di Indonesia. Ini bukan hanya tentang hidup berdampingan secara
damai, tetapi secara aktif terlibat dalam pemecahan masalah dan upaya
kemanusiaan lintas agama. Keterkaitan dengan resolusi konflik menunjukkan bahwa
KBC bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan praktis untuk mengatasi
perbedaan, mempromosikan keadilan restoratif, dan mencari solusi yang
menguntungkan semua pihak (win-win solution) daripada pendekatan yang
bersifat konfrontatif. Ini menjadikan KBC sangat relevan untuk mengatasi
fragmentasi sosial dan mempromosikan harmoni nasional, melampaui pembentukan
karakter individu menuju kesejahteraan sosial kolektif.
3.4. Hubbul Bi_ah
(Cinta kepada Lingkungan)
Pilar Hubbul Bi_ah mengajarkan bahwa mencintai lingkungan (Hablun bi_ah) adalah bagian integral dari ibadah dan merupakan tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam. Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini menuntut adanya kesadaran yang mendalam di kalangan anak-anak akan pentingnya menjaga bumi secara terstruktur dan sistematis. KBC bertujuan untuk melahirkan individu yang naturalis, yaitu mereka yang memahami pentingnya keadilan lingkungan dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut.
Penerapan prinsip keadilan lingkungan
ini sangat ditekankan. Konsep Ar-Rahman mencakup keadilan terhadap alam dan
lingkungan, yang mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung
jawab dan berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan, model "Madrasah
Adiwiyata" diusulkan sebagai pendekatan yang tepat untuk meningkatkan
pemahaman dan kesadaran akan perlindungan dan pengelolaan lingkungan dalam
kerangka pembangunan berkelanjutan. Ini berarti bahwa merawat lingkungan tidak
hanya dilihat sebagai tugas kemanusiaan, tetapi sebagai tindakan ibadah yang
akan mendapatkan balasan di dunia dan akhirat.
Penekanan kuat pada pengelolaan
lingkungan dalam kurikulum berbasis cinta ini menunjukkan adanya ekoteologi
implisit. Ini adalah kerangka teologis yang memandang perlindungan lingkungan
sebagai manifestasi langsung dari iman dan cinta kepada Tuhan. Pendekatan ini
melampaui kesadaran lingkungan belaka, menuju komitmen spiritual yang lebih
dalam, di mana merawat alam bukan hanya cita-cita kemanusiaan tetapi juga
tindakan penghormatan terhadap ciptaan Allah dan respons terhadap rahmat-Nya
yang tak terbatas. Ini menyiratkan bahwa pendidikan lingkungan dalam KBC sangat
spiritual, menghubungkan tindakan manusia dengan kehendak ilahi dan
keseimbangan kosmik, sekaligus memperkuat peran manusia sebagai khalifah
(wakil Allah) di Bumi.
3.5. Hubbul Wathon
(Cinta kepada Tanah Air)
Pilar Hubbul Wathon menanamkan rasa
cinta terhadap tanah air dan bangsa, serta kewajiban untuk membela dan
membangun negara. Konsep "Hubbul Wathon Minal Iman" (cinta tanah air
adalah bagian dari iman) merupakan gagasan yang pertama kali digagas oleh kaum
pesantren, seperti KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul
Ulama (NU), yang berhasil mengintegrasikan semangat Islam dan kebangsaan. Bagi
NU, nasionalisme dipandang sebagai aspek fundamental dalam ajaran Islam.
Cinta tanah air ini berfungsi sebagai
tameng yang kuat untuk melawan arus pergerakan radikalisme yang mengancam
keutuhan negara. Kementerian Agama secara eksplisit menyatakan bahwa KBC
bertujuan untuk mencegah siswa menjadi intoleran dan radikal. NU juga secara
konsisten menyerukan pentingnya menjaga kesatuan bangsa di tengah masyarakat
yang majemuk dan berperan sebagai tonggak penguat nasionalisme di masa depan.
Internalisasi nilai-nilai cinta tanah air sangat krusial bagi generasi muda sebagai penerus bangsa. Hal ini diimplementasikan dengan membiasakan siswa untuk bersikap dan bertindak baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta secara aktif menjaga kedaulatan dan keutuhan bangsa dari berbagai ancaman. Pendidikan kewarganegaraan dan kebangsaan (muwaṭanah) merupakan bagian integral dari profil pelajar Rahmatan lil Alamin, yang mencakup sikap menerima keberadaan negara, mematuhi hukum negara, dan melestarikan budaya Indonesia.
Konsep Hubbul Wathon Minal Iman yang secara konsisten dihubungkan dengan memerangi radikalisme dan memperkuat persatuan nasional , serta disajikan sebagai kewajiban agama, menyoroti aspek unik dari pendidikan Islam di Indonesia: penanaman nasionalisme yang berlandaskan agama. Ini bukan sekadar patriotisme biasa, melainkan keyakinan bahwa mencintai bangsa adalah bagian integral dari iman seseorang, menjadikannya motivator internal yang kuat untuk pertahanan dan pembangunan nasional. Konsep ini secara langsung melawan ideologi ekstremis yang sering menolak negara-bangsa demi kekhalifahan global, menunjukkan bagaimana KBC dapat secara aktif berkontribusi pada keamanan nasional dan kohesi sosial dengan membingkai loyalitas nasional sebagai kebajikan spiritual. Ini menyiratkan bahwa KBC adalah alat strategis untuk pembangunan bangsa, yang secara efektif memanfaatkan keyakinan agama untuk mendorong keterlibatan sipil dan loyalitas.
4. Strategi Pedagogis
dan Implementasi Praktis Kurikulum Berbasis Cinta
Pendekatan Kurikulum
Terintegrasi dan Pendidikan Karakter
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tidak
diperkenalkan sebagai mata pelajaran baru, melainkan diintegrasikan ke dalam
mata pelajaran yang sudah ada. Pendekatan ini sejalan dengan konsep kurikulum
terintegrasi yang menggabungkan visi, misi, institusi, kurikulum, dan model
pembelajaran. Kemenag RI telah menyiapkan panduan untuk membimbing pendidik
dalam mengintegrasikan nilai-nilai cinta, toleransi, dan spiritualitas ke dalam
pengajaran mereka.
Pendidikan karakter dalam KBC
didefinisikan secara komprehensif, mencakup pemikiran, perasaan, dan tindakan.
Ini merupakan upaya yang disengaja, proaktif, dan melibatkan seluruh komunitas
sekolah untuk mengembangkan nilai-nilai etika dan kemampuan bawaan siswa
sebagai fondasi karakter yang baik. Tujuannya adalah membentuk individu yang
peduli, berprinsip, dan bertanggung jawab.
Model Pembelajaran
dan Pembiasaan
Implementasi KBC disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk Raudhatul Athfal (RA/PAUD), metode pembelajaran melibatkan permainan dan pembiasaan positif. Pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pendekatan menekankan pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning) dan refleksi. Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) juga menjadi strategi penting, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek yang bermanfaat bagi masyarakat, sehingga mengembangkan kesadaran akan nilai-nilai sosial dan komunitas dalam konteks agama.
Pembiasaan harian memainkan peran
krusial dalam membentuk budaya sekolah yang mendukung KBC. Contohnya termasuk muroja'ah
harian, shalat Dhuha dan Dhuhur berjamaah, membaca surat-surat pendek Al-Qur'an
sebelum pembelajaran, dan kegiatan "Report time" untuk melacak shalat
wajib dan sunnah serta membantu orang tua. Budaya 5S (senyum, sapa, salam,
sopan, dan santun), keteladanan, dan pembinaan akidah juga diterapkan. Atmosfer
religius ini, yang dibangun melalui pembiasaan, secara tidak langsung
menanamkan nilai-nilai agama yang mendukung tujuan pendidikan.
Peran Pendidik dan
Lingkungan Belajar
Pendidik memegang peran vital sebagai
teladan (qudwah hasanah) dan pembimbing. Mereka harus mampu menyusun
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis karakter yang mengidentifikasi
langkah-langkah pembelajaran yang selaras dengan nilai-nilai karakter yang
ingin ditanamkan. Dalam proses belajar mengajar, nilai-nilai karakter
diinternalisasi tidak hanya pada aspek kognitif dan psikomotor, tetapi juga
pada sikap afektif yang menjadi perilaku sehari-hari.
Komunikasi yang efektif dan Islami juga
ditekankan. Pendidik dianjurkan menggunakan bahasa yang baik dan benar (Qaulan
ma’rufan), mulia (Qaulan Kariman), mudah dipahami (Qaulan
Maisuran), simpatik (Qaulan Laiyinan), mengesankan (Qaulan
Balighan), dan benar (Qaulan Sadidan). Interaksi yang harmonis
antara guru dan siswa, dengan menggunakan bahasa kekeluargaan dan kontrol yang
tegas namun lembut, sangat penting.
Lingkungan belajar harus kondusif,
sehat, dan bermartabat. Ini mencakup penyediaan ruang kelas yang bersih dan
nyaman, serta fasilitas yang memadai. KBC juga mendorong terciptanya budaya
kepedulian, kebersihan, kerapian, ketertiban, kesehatan, dan keindahan di
lingkungan sekolah.
Tantangan dan Solusi
Implementasi KBC menghadapi beberapa
tantangan, termasuk keragaman latar belakang siswa dan keterbatasan sumber
daya. Untuk mengatasi ini, diperlukan pendekatan yang inklusif dan adaptif,
seperti internalisasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan
pemanfaatan teknologi yang relevan. Kontroversi terkait pemilihan karya sastra
yang mungkin mengandung konten tidak etis atau informasi biografis yang tidak
akurat juga menjadi perhatian. Oleh karena itu, kurasi dan pemilihan karya
sastra harus dilakukan dengan cermat berdasarkan kategori usia dan nilai
pendidikan, melibatkan penerbit, guru, sekolah, dan orang tua.
Kualitas pendidikan di Indonesia juga
menghadapi berbagai isu, seperti lingkungan belajar yang kurang kondusif dan
kurangnya pembangunan karakter. KBC, dengan mengintegrasikan nilai-nilai
spiritual dan moral, berupaya mengatasi masalah ini dengan menciptakan
lingkungan belajar yang holistik dan bermartabat.
Evaluasi
Pengukuran keberhasilan implementasi
pendidikan karakter dalam KBC dilakukan melalui evaluasi berkelanjutan yang
melibatkan semua pemangku kepentingan sekolah. Pendidik melakukan evaluasi
untuk memantau proses, kemajuan, dan peningkatan hasil, menggunakan instrumen
evaluasi yang sesuai untuk aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Untuk aspek
afektif, teknik non-tes seperti observasi perkembangan siswa (sikap dan
perilaku) selama dan di luar jam pelajaran lebih tepat digunakan. Keberhasilan
KBC sangat bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan sekolah untuk
mengimplementasikan kegiatan yang telah ditetapkan sebagai budaya sekolah,
mengoptimalkan nilai-nilai karakter yang diinginkan pada siswa.
5. Kesimpulan
Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam
pendidikan Islam merupakan pendekatan transformatif yang berlandaskan pada Asma
Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dua sifat kasih sayang ilahi yang fundamental.
Ar-Rahman, sebagai rahmat universal, mendorong manusia untuk mengembangkan
empati dan toleransi terhadap seluruh ciptaan, sementara Ar-Rahim, sebagai
rahmat spesifik bagi orang beriman, memotivasi amal saleh dan pembentukan
karakter yang berorientasi pada tindakan nyata. Keseimbangan antara rahmat dan
keadilan (Al-Adlu) dalam sifat-sifat Allah menegaskan bahwa KBC tidak hanya
menanamkan kasih sayang, tetapi juga keadilan, tanggung jawab, dan kemampuan
berpikir kritis. Pendekatan ini secara filosofis menantang fragmentasi
pengetahuan dan eksistensi modern, menawarkan paradigma pendidikan yang
holistik dan terintegrasi.
Implementasi KBC melalui lima pilar
cinta—Hubbulloh wa Hubburrasul, Hubbul 'Ilmi, Hubbun Nafsi wan Nas, Hubbul
Bi'ah, dan Hubbul Wathon—menunjukkan bagaimana nilai-nilai teologis diwujudkan
dalam praktik pedagogis. Hubbulloh wa Hubburrasul melampaui ritual, membentuk
karakter spiritual yang terinternalisasi. Hubbul 'Ilmi menjadikan pencarian
pengetahuan sebagai jembatan antara rahmat universal dan ketaatan spesifik,
mendorong pemahaman kritis dan etis. Hubbun Nafsi wan Nas berfungsi sebagai
fondasi moderasi beragama dan resolusi konflik, membekali siswa dengan
keterampilan untuk navigasi keberagaman. Hubbul Bi_ah mengintegrasikan
ekoteologi, menjadikan kepedulian lingkungan sebagai manifestasi cinta ilahi
dan ibadah. Terakhir, Hubbul Wathon menumbuhkan nasionalisme religius,
memperkuat ketahanan bangsa dan menangkal radikalisme dengan membingkai
loyalitas nasional sebagai kebajikan spiritual.
Secara keseluruhan, KBC merupakan upaya
strategis untuk membentuk individu yang seimbang, berkarakter mulia, dan
berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan mengintegrasikan
nilai-nilai kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab ke dalam setiap aspek
pendidikan, KBC berpotensi besar untuk mengatasi tantangan sosial dan moral di
era kontemporer, mewujudkan masyarakat yang harmonis, inklusif, dan beradab.
Keberhasilan implementasinya akan bergantung pada komitmen seluruh pemangku
kepentingan pendidikan untuk secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip ini
melalui budaya sekolah, kurikulum terintegrasi, dan teladan dari para pendidik.
Daftar Pustaka
- Hidayat,
A., & Hidayat, A. (2015). Pendidikan Islam dan Lingkungan Hidup. Jurnal
Pendidikan Islam, 4(2), 373–389.
- Kementerian
Agama Republik Indonesia. (2025). Apa Kurikulum Cinta Ini? Pengertian
dan Strategi Implementasinya.
- Kementerian
Agama Republik Indonesia. (n.d.). Panduan Kurikulum Berbasis Cinta.
- Khimjee,
H. (2023). Beautiful Attributes: Ar-Rahman and Ar-Rahim.
Organization for Islamic Learning.
- MTsN
3 Bogor. (n.d.). Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin.
- Murtafiah,
N. H., & Ali, I. (2023). Implementasi Teori Organisasi Berbasis Nilai
Spiritual Islami dalam Praktik Pendidikan. Jurnal Pendidikan, 1(1),
1677-1346.
- Nurdiyanto,
N., Jamal, J., Isnaini, N. A., & Yulianti, F. (2023). Landasan
Filosofis-Teologis dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam. AL-MIKRAJ
Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 4(1), 889-912.
- Rahman,
K. (2021). Pendidikan Karakter Berbasis Kurikulum Terintegrasi di
Perguruan Tinggi Agama Islam. Journal of Islamic Education Research,
2(2), 169.
- Sundari,
S., & Muslih, H. (2023). Implikasi Pedagogis dalam Pendidikan Islam
Anak Usia Dini pada Konsep Fitrah untuk Anak dalam Penafsiran Al-Qur'an
Ibnu Katsir. ISLAMIKA, 5(1), 316-335.
- Universitas
Islam Negeri Mataram. (n.d.). Kurikulum Berbasis Cinta: Membangun
Pendidikan yang Berorientasi pada Kasih Sayang dan Kemanusiaan.
- Universitas
Nahdlatul Ulama Surabaya. (2023). Konsep Hubbul Wathon Minal Iman
Sebagai Tonggak Penguat Nasionalisme Indonesia.
- UIN
Suska Riau. (2024). Sastra dan Spiritualitas: Implementasi Nilai-Nilai
Islam dalam Pembelajaran di Era Kurikulum Merdeka. POTENSIA: Jurnal
Kependidikan Islam, 10(2), 265-271.
- UIN
Khas Jember. (n.d.). Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis
Spiritualias di Madrasah. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 1(1),
1529-212.
- UIN
Metro. (n.d.). Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
Islam Terpadu (SDIT). Elementary: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah, 6(2), 58-76.
- STAIN
Bengkalis Riau. (2025). Kurikulum Cinta Perspektif Islam.
- Liputan6.
(2024). Arti Ar-Rahman: Pahami Makna dan Keagungan Nama Allah yang Maha
Pengasih.
- Kemenag
Sulteng. (2025). Kabid Madrasah: Kurikulum Cinta Perkuat Pendidikan
Karakter Spiritual di Madrasah.
- Jurnal
Dharmawangsa. (n.d.). Prinsip Ar-Rahman Ar-Rahim dalam Desain Kurikulum
Pendidikan Islam.
- Jurnal
Innovative. (n.d.). Filsafat Pendidikan Islam Kasih Sayang Allah
Kurikulum Jurnal.
- Jurnal
Bintang Pendidikan Indonesia. (n.d.). Hakikat Metode Pendidikan Islam
Dalam Presefektif Filsafat Pendidikan Islam.
- TADRIS:
Jurnal Pendidikan Islam. (2020). Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan
Agama Islam: Analisis Model Kurikulum Rahmatan lil Alamin.
- Women
and CVE. (2023). Hubbul Wathon Minal Iman Sebagai Implementasi
Nasionalisme.
- YouTube.
(n.d.). Integrasi Ar-Rahman Ar-Rahim dalam Kurikulum Pendidikan Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar