Minggu, 03 Agustus 2025

Landasan Filosofis-Teologis dan Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Pendidikan Islam Berdasarkan Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim

 

Abstrak

Artikel ini mengkaji secara mendalam konsep Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam pendidikan Islam, dengan menelusuri landasan filosofis-teologisnya yang berakar pada Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Pembahasan meliputi definisi dan implikasi kedua Asma tersebut sebagai fondasi kasih sayang universal dan spesifik. Selanjutnya, artikel ini menguraikan implementasi KBC melalui lima pilar cinta: Hubbulloh wa Hubburrasul, Hubbul 'Ilmi, Hubbun Nafsi wan Nas, Hubbul Bi_ah, dan Hubbul Wathon, dengan menyajikan strategi pedagogis dan contoh implementasi praktis. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana KBC dapat membentuk individu yang seimbang, berkarakter mulia, dan berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan, serta menyoroti tantangan dan prospeknya di masa depan.

1. Pendahuluan

Latar Belakang: Urgensi Pendidikan Karakter dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Era Kontemporer

Pendidikan Islam dihadapkan pada serangkaian tantangan kompleks di era modern, termasuk dampak globalisasi, pluralisme agama, dan laju perubahan sosial yang begitu cepat. Lingkungan yang dinamis ini menimbulkan kekhawatiran serius akan penurunan karakter di kalangan lulusan pendidikan tinggi , serta kemunculan sikap intoleran dan radikalisme di kalangan siswa. Realitas ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan suatu pendekatan pendidikan yang lebih komprehensif dan adaptif, yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan moral.

Menanggapi kebutuhan ini, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) muncul sebagai sebuah gagasan inovatif. KBC dirancang untuk membangun sistem pendidikan yang berorientasi pada kasih sayang dan kemanusiaan, dengan tujuan utama mencetak individu yang memiliki hati penuh kasih, bertanggung jawab secara sosial, dan siap menyongsong masa depan dengan semangat cinta dan kemanusiaan. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) telah menginisiasi penerapan Kurikulum Cinta ini sebagai respons strategis terhadap kebutuhan inovasi dalam pendidikan karakter yang lebih integratif dan sistematis.

Visi KBC melampaui batas-batas lokal. Kurikulum ini tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan di tingkat lokal, tetapi juga dipandang memiliki peluang besar untuk memberikan kontribusi signifikan dalam penyelesaian tantangan global. Melalui pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai cinta dan toleransi ke dalam setiap aspek pembelajaran, KBC menawarkan solusi potensial untuk berbagai konflik sosial, diskriminasi, dan ketidakadilan yang masih melanda berbagai belahan dunia. Ini menunjukkan ambisi KBC yang luas dan relevansinya dalam konteks global.

Tujuan Penulisan Artikel: Menganalisis Landasan Filosofis-Teologis dan Implementasi KBC

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif landasan filosofis-teologis Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang bersumber dari Asma Allah, khususnya Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Selain itu, artikel ini akan menguraikan strategi implementasi KBC melalui lima pilar cinta yang diusulkan, yaitu Hubbulloh wa Hubburrasul, Hubbul 'Ilmi, Hubbun Nafsi wan Nas, Hubbul Bi'ah, dan Hubbul Wathon, serta implikasi pedagogisnya dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia.

2. Landasan Filosofis-Teologis Kurikulum Berbasis Cinta: Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Konsep Kasih Sayang Universal (Ar-Rahman) dan Kasih Sayang Spesifik (Ar-Rahim) dalam Islam

Dalam ajaran Islam, Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim merupakan dua dari nama-nama agung yang secara fundamental menggambarkan sifat kasih sayang Allah SWT. Ar-Rahman melambangkan kasih sayang Allah yang tak terbatas dan menyeluruh, meliputi seluruh ciptaan di dunia ini, baik bagi mukmin maupun kafir. Rahmat ini bersifat umum, termanifestasi dalam pemberian nikmat dasar seperti sinar matahari, hujan, dan keberlangsungan hidup bagi semua makhluk tanpa diskriminasi. Keagungan sifat ini bahkan diabadikan sebagai nama surah ke-55 dalam Al-Qur'an, yaitu Surah Ar-Rahman.

Sementara itu, Ar-Rahim mencerminkan kasih sayang Allah yang eksklusif dan spesifik, yang secara khusus ditujukan bagi orang-orang beriman di akhirat. Rahmat ini merupakan balasan atas penggunaan karunia-Nya dengan keyakinan penuh dan pelaksanaan amal saleh yang diridhai-Nya. Pemahaman tentang Ar-Rahim ini memotivasi orang beriman untuk melakukan perbuatan baik secara tulus, dengan harapan akan balasan yang berlipat ganda di akhirat kelak. Ini mendorong individu untuk tidak hanya memiliki keyakinan formal, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata dan perilaku sehari-hari, sebuah konsep yang dikenal sebagai orthopraxy.

Implikasi Teologis Ar-Rahman dan Ar-Rahim sebagai Fondasi Pendidikan Berbasis Kasih Sayang

Pendidikan Islam yang berlandaskan pada Ar-Rahman dan Ar-Rahim menegaskan bahwa kasih sayang adalah inti dari banyak ajaran spiritual. Kasih sayang Allah yang universal (Ar-Rahman) mendorong manusia untuk mengembangkan empati, toleransi, dan kasih sayang terhadap semua makhluk, tanpa memandang perbedaan keyakinan, ras, atau latar belakang. Hal ini sejalan dengan tujuan utama KBC untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan harmonis, di mana keberagaman dihargai sebagai manifestasi rahmat ilahi.

Kasih sayang yang spesifik (Ar-Rahim) memotivasi orang beriman untuk melakukan amal saleh dan berbuat kebaikan secara tulus, karena balasan terbaik ada di akhirat. Ini membentuk karakter yang berorientasi pada tindakan nyata (orthopraxy) daripada sekadar keyakinan formal (orthodoxy), di mana keimanan terwujud dalam perilaku sehari-hari yang penuh kasih sayang dan kedermawanan.

Prinsip Ar-Rahman dan Ar-Rahim juga mengandung keseimbangan antara rahmat dan keadilan (Al-Adlu), di mana keadilan dipandang sebagai bentuk tertinggi dari kasih sayang. Apabila sebuah kurikulum benar-benar berlandaskan pada kasih sayang ilahi, ia tidak dapat bersifat lunak atau permisif semata. Sebaliknya, ia harus menanamkan rasa keadilan, kejujuran, dan tanggung jawab yang kuat. Ini berarti bahwa pendidikan harus membimbing siswa tidak hanya untuk bersikap baik, tetapi juga untuk berlaku adil, menjunjung tinggi hak-hak orang lain, memperbaiki kesalahan, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan, baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat luas. Keseimbangan antara rahmat dan keadilan ini memastikan bahwa "cinta" yang diajarkan dalam kurikulum tidak bersifat sentimental, melainkan kokoh, berlandaskan prinsip-prinsip etika yang kuat, dan mampu mengatasi masalah-masalah dunia nyata seperti ketidakadilan sosial dan degradasi lingkungan. Implikasinya adalah bahwa disiplin, akuntabilitas, dan kemampuan berpikir kritis—yang esensial untuk memahami dan menerapkan keadilan—merupakan komponen integral dari kurikulum berbasis cinta, bukan elemen yang bertentangan dengannya.

Keterkaitan dengan Landasan Filosofis (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi) Pendidikan Islam

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) memiliki keterkaitan erat dengan landasan filosofis pendidikan Islam, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi, yang semuanya diperkuat oleh konsep Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Ontologi KBC: KBC secara fundamental mengatasi masalah ontologis yang kerap terjadi di era modern, yaitu hilangnya kesadaran akan hakikat realitas yang tunggal dan saling terhubung. Dalam pandangan modern, cenderung terjadi fragmentasi di mana segala sesuatu dilihat secara terpisah, mengabaikan jalinan erat yang mengikat seluruh eksistensi. Berdasarkan prinsip Ar-Rahman, KBC mengajarkan bahwa seluruh komponen alam semesta, termasuk manusia, adalah satu kesatuan entitas yang saling terhubung dalam jaring-jaring kasih sayang ilahi. Pemahaman ini mendorong pengembangan empati, kerja sama, dan rasa tanggung jawab terhadap sesama dan alam. Dalam konteks pendidikan Islam, manusia dipandang sebagai khalifah di bumi, yang diciptakan dengan tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan antara tugas duniawi dan akhirat.

Epistemologi KBC: KBC juga mengatasi masalah epistemologis yang muncul sebagai dampak langsung dari hilangnya cinta, yaitu kegagalan manusia untuk meraih pengetahuan secara holistik. Tanpa landasan cinta yang menghubungkan, pengetahuan cenderung menjadi terkotak-kotak atau atomistik. Filsafat ilmu Islam mengajarkan bahwa semua ilmu, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, pada dasarnya berasal dari Allah dan seharusnya saling melengkapi. Pandangan ini membentuk kerangka berpikir yang kritis, reflektif, luas, dan inklusif, yang sejalan dengan konsep

fitrah sebagai potensi bawaan manusia untuk Tawhid dan pengetahuan.

Kurikulum Berbasis Cinta, dengan mendasarkan dirinya pada Ar-Rahman dan Ar-Rahim, secara implisit menawarkan narasi tandingan terhadap kecenderungan reduksionis pemikiran sekuler modern. Jika semua ciptaan saling terhubung melalui rahmat universal Allah (Ar-Rahman), maka pengetahuan tentang ciptaan itu (epistemologi) juga harus terintegrasi dan holistik, bukan terfragmentasi menjadi disiplin ilmu yang terisolasi. Ini menyiratkan bahwa KBC bukan sekadar tambahan pada kurikulum yang ada, tetapi menuntut pergeseran fundamental dalam cara pengetahuan distrukturkan, diajarkan, dan dipahami. Pergeseran ini bergerak dari pandangan yang terkotak-kotak menuju pandangan dunia yang terintegrasi dan saling terhubung, di mana domain spiritual, moral, dan intelektual tidak dapat dipisahkan. Hal ini memiliki implikasi mendalam untuk desain kurikulum, pelatihan guru, dan bahkan arsitektur sekolah, yang semuanya harus mencerminkan keterhubungan ini.

Aksiologi KBC: Nilai-nilai yang diutamakan dalam KBC, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan etika, menjadi fokus utama dalam seluruh proses pendidikan. Hal ini sejalan dengan tujuan pembentukan karakter mulia (al-akhlaq al-karimah) yang merupakan esensi dari ajaran Islam. KBC secara eksplisit bertujuan melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, dan toleran, yang mencerminkan nilai-nilai universal yang dipegang teguh dalam Islam.

3. Implementasi Lima Pilar Cinta dalam Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) diimplementasikan melalui lima pilar cinta yang saling terkait, yang masing-masing berakar pada Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Berikut adalah tabel yang merangkum dimensi-dimensi cinta ini dan relevansinya dengan sifat-sifat kasih sayang Allah:

Tabel 1: Dimensi Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta dan Relevansinya dengan Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Pilar Cinta

Definisi Singkat

Relevansi dengan Ar-Rahman

Relevansi dengan Ar-Rahim

Hubbulloh wa Hubburrasul

Mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW sebagai landasan spiritual dan ketaatan.

Mengakui kasih sayang universal Allah yang menciptakan dan memelihara semua makhluk, menumbuhkan rasa syukur dan ketaatan.

Memotivasi ibadah dan amal saleh sebagai bentuk respons terhadap kasih sayang spesifik Allah kepada orang beriman, mengharapkan balasan di akhirat.

Hubbul 'Ilmi

Mencintai ilmu pengetahuan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kualitas hidup.

Ilmu sebagai manifestasi rahmat Allah yang diberikan kepada seluruh manusia untuk memahami ciptaan-Nya.

Pencarian ilmu yang bermanfaat dan aplikatif untuk kebaikan diri dan umat, sebagai bentuk ibadah dan amal yang diridhai Allah.

Hubbun Nafsi wan Nas

Mencintai diri sendiri dan sesama manusia, tanpa memandang perbedaan, serta mengembangkan empati dan toleransi.

Mengakui bahwa semua manusia adalah ciptaan Allah yang berhak atas kasih sayang universal-Nya, mendorong penghormatan terhadap keberagaman.

Mendorong perbuatan baik, kasih sayang, dan keadilan sosial kepada sesama sebagai bukti keimanan dan harapan akan balasan baik di akhirat.

Hubbul Bi'ah

Mencintai dan menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.

Lingkungan sebagai karunia dan manifestasi rahmat universal Allah yang harus dijaga dan dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Memotivasi tindakan nyata dalam pelestarian lingkungan sebagai amal saleh yang akan dibalas di dunia dan akhirat.

Hubbul Wathon

Mencintai tanah air dan bangsa sebagai bagian dari iman, serta kewajiban untuk membela dan membangun negara.

Kasih sayang Allah yang melingkupi seluruh bumi dan bangsa, mendorong rasa syukur atas karunia tanah air dan kewajiban menjaganya.

Mendorong pengorbanan dan kontribusi nyata untuk kemajuan bangsa sebagai bentuk ibadah dan manifestasi keimanan yang akan mendapatkan ganjaran.

3.1. Hubbulloh wa Hubburrasul (Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya)

Pilar pertama dan paling fundamental dalam KBC adalah penanaman cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Pilar ini menjadi fondasi utama yang menekankan pembangunan hubungan yang kuat dengan Allah (Hablum Minallah) sejak usia dini. KBC berupaya menanamkan keyakinan yang bersih (Salimul Aqidah) akan Allah sebagai pencipta, pemilik, pemelihara, dan penguasa alam semesta, serta menjauhkan siswa dari bid'ah, khurafat, dan syirik. Ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam secara umum untuk membentuk individu yang beriman dan bertakwa.

Implementasi pilar ini mencakup pembiasaan ibadah yang benar (Shahihul Ibadah) seperti shalat, puasa, tilawah Al-Qur'an, dzikir, dan doa sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah. Lebih dari itu, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya diwujudkan melalui budaya sekolah yang terintegrasi, sepertimuroja'ah harian (hafalan), shalat Dhuha dan Dhuhur berjamaah, serta membaca surat-surat pendek Al-Qur'an sebelum memulai pembelajaran. Dalam konteks ini, peran guru sangat sentral. Guru tidak hanya menjadi fasilitator materi, tetapi juga sebagai "montir spiritual" yang memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki logika yang bengkok dan batin yang kropos pada diri siswa. Ini berarti guru harus mampu mentransformasikan kepintaran kepada murid dengan sentuhan spiritualisasi yang mendalam.

Penekanan pada "Aqidah yang bersih" dan "Ibadah yang benar" yang dikombinasikan dengan analogi guru sebagai "montir spiritual" menunjukkan bahwa Hubbulloh wa Hubburrasul melampaui sekadar pelaksanaan ritual secara hafalan atau mekanis. Tujuannya lebih dalam: menginternalisasi praktik-praktik keagamaan ini sehingga membentuk karakter, kompas moral, dan bahkan proses kognitif siswa. Ini adalah tentang menumbuhkan cinta dan kesadaran yang tulus terhadap Tuhan yang meresapi semua aspek kehidupan, mengubah tindakan eksternal menjadi kebajikan internal, bukan hanya memenuhi kewajiban agama. Proses ini merupakan pergerakan dari kepatuhan perilaku menuju pembentukan spiritual yang sejati, di mana setiap tindakan didasari oleh kesadaran akan kehadiran dan kasih sayang Allah.

3.2. Hubbul 'Ilmi (Cinta kepada Ilmu Pengetahuan)

Pilar Hubbul 'Ilmi dalam KBC berakar pada pemahaman bahwa manusia dilahirkan dengan fitrah—potensi bawaan berupa Tawhid dan kemampuan untuk mengetahui. Pendidikan harus menjaga fitrah hanif ini dengan membimbing siswa untuk memahami esensi hidup dan tujuan penciptaan melalui ilmu. Dalam pandangan Islam, mencari ilmu dipandang sebagai bagian integral dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.

KBC bertujuan membentuk siswa yang cerdas dan berpengetahuan (Mutsaqqaful Fikri), yang memiliki kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, dan kreatif. Filsafat ilmu Islam mendorong siswa untuk memahami bahwa semua pengetahuan, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi, pada dasarnya berasal dari Allah dan harus saling melengkapi. Konsep ini membantu menciptakan pendidikan yang holistik, di mana siswa dilatih untuk berpikir kritis, reflektif, dan berkontribusi secara positif. Sastra, misalnya, dapat menjadi alat yang krusial untuk mengasah kemampuan berpikir kritis siswa dengan mengekspos mereka pada beragam perspektif, karakter, dan makna mendalam dalam cerita.

Implikasi pedagogis dari pilar ini sangat beragam. Dalam pendidikan anak usia dini, metode hikmah (literasi dan keteladanan, seperti hafalan dan pengajian), mau'idhoh (penyampaian pesan dan penalaran), dan mujadalah bi al-ihsan (diskusi dengan cara terbaik) digunakan untuk membantu anak memanfaatkan indra, akal, dan wahyu dalam memahami bimbingan ilahi. Kurikulum juga harus menyeimbangkan antara teori dan praktik, serta memberikan kebebasan bagi peserta didik untuk berkreasi dan mengambil inisiatif dalam batas-batas al-akhlaq al-karimah (akhlak mulia).

Pilar Hubbul Ilmi sebagai pencarian ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan pengembangan berpikir kritis menunjukkan bahwa pilar ini bukan sekadar mengumpulkan fakta atau mengembangkan kecakapan intelektual demi dirinya sendiri. Ini adalah tentang menggunakan ilmu sebagai alat untuk memahami rahmat universal Allah (Ar-Rahman) yang terbukti dalam ciptaan-Nya, dan untuk memenuhi peran seseorang sebagai

khalifah (wakil Allah) di Bumi. Aspek berpikir kritis sangat penting karena memungkinkan siswa untuk membedakan kebenaran, menerapkan ilmu secara etis, dan berkontribusi kepada masyarakat, yang kemudian menjadi tindakan ibadah yang mendapatkan rahmat khusus Allah (Ar-Rahim). Dengan demikian, akuisisi ilmu adalah proses dinamis penemuan dan penerapan, didorong oleh rasa syukur atas berkah universal dan aspirasi untuk pahala ilahi.

3.3. Hubbun Nafsi wan Nas (Cinta kepada Diri dan Sesama Manusia)

Pilar Hubbun Nafsi wan Nas dalam KBC fokus pada pembentukan pribadi yang matang (Matinul Khuluq) dan bermanfaat bagi orang lain (Nafi'un Lighoirihi). Kurikulum ini bertujuan untuk mengembangkan individu yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, peduli, sabar, gigih, dan berani dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan. Selain itu, pilar ini juga mencakup kemampuan untuk menjadi mandiri (Qadirun alal Kasbi) dalam memenuhi kebutuhan hidup , serta memiliki kepekaan dan keterampilan untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Secara eksplisit, KBC bertujuan membangun cinta kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama, ras, atau latar belakang (Hablum Minannas), serta membiasakan anak-anak dengan keberagaman. Konsep Ar-Rahman mendorong penghargaan terhadap keberagaman, memfasilitasi dialog antaragama, membantu menghindari sikap eksklusif, dan memotivasi kerja sama dalam isu-isu kemanusiaan lintas agama. KBC diharapkan melahirkan generasi yang lebih toleran, inklusif, dan penuh kasih sayang, yang pada akhirnya akan mewujudkan masyarakat yang harmonis dalam keberagaman. Hal ini sejalan dengan profil pelajar Rahmatan lil Alamin yang menekankan kesetaraan (musāwah) dan toleransi (tasāmuh) sebagai nilai-nilai inti.

Pengembangan moral siswa dalam pilar ini melibatkan pemahaman nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, keadilan, empati, dan rasa hormat. Ini juga mencakup pengembangan penalaran moral, pembentukan perilaku moral yang konsisten, dan pemahaman yang mendalam tentang konteks sosial. KBC juga menekankan pengembangan aspek sosial siswa, termasuk kemampuan interaksi, kerja sama, adaptasi sosial, manajemen emosi, dan peningkatan empati yang signifikan.

Penekanan berulang pada toleransi dan dialog antaragama, yang secara langsung terkait dengan rahmat universal Ar-Rahman, menempatkan KBC sebagai alat yang ampuh untuk menumbuhkan moderasi beragama di Indonesia. Ini bukan hanya tentang hidup berdampingan secara damai, tetapi secara aktif terlibat dalam pemecahan masalah dan upaya kemanusiaan lintas agama. Keterkaitan dengan resolusi konflik menunjukkan bahwa KBC bertujuan untuk membekali siswa dengan keterampilan praktis untuk mengatasi perbedaan, mempromosikan keadilan restoratif, dan mencari solusi yang menguntungkan semua pihak (win-win solution) daripada pendekatan yang bersifat konfrontatif. Ini menjadikan KBC sangat relevan untuk mengatasi fragmentasi sosial dan mempromosikan harmoni nasional, melampaui pembentukan karakter individu menuju kesejahteraan sosial kolektif.

3.4. Hubbul Bi_ah (Cinta kepada Lingkungan)

Pilar Hubbul Bi_ah mengajarkan bahwa mencintai lingkungan (Hablun bi_ah) adalah bagian integral dari ibadah dan merupakan tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian alam. Kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini menuntut adanya kesadaran yang mendalam di kalangan anak-anak akan pentingnya menjaga bumi secara terstruktur dan sistematis. KBC bertujuan untuk melahirkan individu yang naturalis, yaitu mereka yang memahami pentingnya keadilan lingkungan dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut.

Penerapan prinsip keadilan lingkungan ini sangat ditekankan. Konsep Ar-Rahman mencakup keadilan terhadap alam dan lingkungan, yang mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan, model "Madrasah Adiwiyata" diusulkan sebagai pendekatan yang tepat untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan perlindungan dan pengelolaan lingkungan dalam kerangka pembangunan berkelanjutan. Ini berarti bahwa merawat lingkungan tidak hanya dilihat sebagai tugas kemanusiaan, tetapi sebagai tindakan ibadah yang akan mendapatkan balasan di dunia dan akhirat.

Penekanan kuat pada pengelolaan lingkungan dalam kurikulum berbasis cinta ini menunjukkan adanya ekoteologi implisit. Ini adalah kerangka teologis yang memandang perlindungan lingkungan sebagai manifestasi langsung dari iman dan cinta kepada Tuhan. Pendekatan ini melampaui kesadaran lingkungan belaka, menuju komitmen spiritual yang lebih dalam, di mana merawat alam bukan hanya cita-cita kemanusiaan tetapi juga tindakan penghormatan terhadap ciptaan Allah dan respons terhadap rahmat-Nya yang tak terbatas. Ini menyiratkan bahwa pendidikan lingkungan dalam KBC sangat spiritual, menghubungkan tindakan manusia dengan kehendak ilahi dan keseimbangan kosmik, sekaligus memperkuat peran manusia sebagai khalifah (wakil Allah) di Bumi.

3.5. Hubbul Wathon (Cinta kepada Tanah Air)

Pilar Hubbul Wathon menanamkan rasa cinta terhadap tanah air dan bangsa, serta kewajiban untuk membela dan membangun negara. Konsep "Hubbul Wathon Minal Iman" (cinta tanah air adalah bagian dari iman) merupakan gagasan yang pertama kali digagas oleh kaum pesantren, seperti KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yang berhasil mengintegrasikan semangat Islam dan kebangsaan. Bagi NU, nasionalisme dipandang sebagai aspek fundamental dalam ajaran Islam.

Cinta tanah air ini berfungsi sebagai tameng yang kuat untuk melawan arus pergerakan radikalisme yang mengancam keutuhan negara. Kementerian Agama secara eksplisit menyatakan bahwa KBC bertujuan untuk mencegah siswa menjadi intoleran dan radikal. NU juga secara konsisten menyerukan pentingnya menjaga kesatuan bangsa di tengah masyarakat yang majemuk dan berperan sebagai tonggak penguat nasionalisme di masa depan.

Internalisasi nilai-nilai cinta tanah air sangat krusial bagi generasi muda sebagai penerus bangsa. Hal ini diimplementasikan dengan membiasakan siswa untuk bersikap dan bertindak baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta secara aktif menjaga kedaulatan dan keutuhan bangsa dari berbagai ancaman. Pendidikan kewarganegaraan dan kebangsaan (muwaanah) merupakan bagian integral dari profil pelajar Rahmatan lil Alamin, yang mencakup sikap menerima keberadaan negara, mematuhi hukum negara, dan melestarikan budaya Indonesia.

Konsep Hubbul Wathon Minal Iman yang secara konsisten dihubungkan dengan memerangi radikalisme dan memperkuat persatuan nasional , serta disajikan sebagai kewajiban agama, menyoroti aspek unik dari pendidikan Islam di Indonesia: penanaman nasionalisme yang berlandaskan agama. Ini bukan sekadar patriotisme biasa, melainkan keyakinan bahwa mencintai bangsa adalah bagian integral dari iman seseorang, menjadikannya motivator internal yang kuat untuk pertahanan dan pembangunan nasional. Konsep ini secara langsung melawan ideologi ekstremis yang sering menolak negara-bangsa demi kekhalifahan global, menunjukkan bagaimana KBC dapat secara aktif berkontribusi pada keamanan nasional dan kohesi sosial dengan membingkai loyalitas nasional sebagai kebajikan spiritual. Ini menyiratkan bahwa KBC adalah alat strategis untuk pembangunan bangsa, yang secara efektif memanfaatkan keyakinan agama untuk mendorong keterlibatan sipil dan loyalitas.

4. Strategi Pedagogis dan Implementasi Praktis Kurikulum Berbasis Cinta

Pendekatan Kurikulum Terintegrasi dan Pendidikan Karakter

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) tidak diperkenalkan sebagai mata pelajaran baru, melainkan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada. Pendekatan ini sejalan dengan konsep kurikulum terintegrasi yang menggabungkan visi, misi, institusi, kurikulum, dan model pembelajaran. Kemenag RI telah menyiapkan panduan untuk membimbing pendidik dalam mengintegrasikan nilai-nilai cinta, toleransi, dan spiritualitas ke dalam pengajaran mereka.

Pendidikan karakter dalam KBC didefinisikan secara komprehensif, mencakup pemikiran, perasaan, dan tindakan. Ini merupakan upaya yang disengaja, proaktif, dan melibatkan seluruh komunitas sekolah untuk mengembangkan nilai-nilai etika dan kemampuan bawaan siswa sebagai fondasi karakter yang baik. Tujuannya adalah membentuk individu yang peduli, berprinsip, dan bertanggung jawab.

Model Pembelajaran dan Pembiasaan

Implementasi KBC disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk Raudhatul Athfal (RA/PAUD), metode pembelajaran melibatkan permainan dan pembiasaan positif. Pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pendekatan menekankan pembelajaran berbasis pengalaman (experience-based learning) dan refleksi. Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) juga menjadi strategi penting, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek yang bermanfaat bagi masyarakat, sehingga mengembangkan kesadaran akan nilai-nilai sosial dan komunitas dalam konteks agama.

Pembiasaan harian memainkan peran krusial dalam membentuk budaya sekolah yang mendukung KBC. Contohnya termasuk muroja'ah harian, shalat Dhuha dan Dhuhur berjamaah, membaca surat-surat pendek Al-Qur'an sebelum pembelajaran, dan kegiatan "Report time" untuk melacak shalat wajib dan sunnah serta membantu orang tua. Budaya 5S (senyum, sapa, salam, sopan, dan santun), keteladanan, dan pembinaan akidah juga diterapkan. Atmosfer religius ini, yang dibangun melalui pembiasaan, secara tidak langsung menanamkan nilai-nilai agama yang mendukung tujuan pendidikan.

Peran Pendidik dan Lingkungan Belajar

Pendidik memegang peran vital sebagai teladan (qudwah hasanah) dan pembimbing. Mereka harus mampu menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis karakter yang mengidentifikasi langkah-langkah pembelajaran yang selaras dengan nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan. Dalam proses belajar mengajar, nilai-nilai karakter diinternalisasi tidak hanya pada aspek kognitif dan psikomotor, tetapi juga pada sikap afektif yang menjadi perilaku sehari-hari.

Komunikasi yang efektif dan Islami juga ditekankan. Pendidik dianjurkan menggunakan bahasa yang baik dan benar (Qaulan ma’rufan), mulia (Qaulan Kariman), mudah dipahami (Qaulan Maisuran), simpatik (Qaulan Laiyinan), mengesankan (Qaulan Balighan), dan benar (Qaulan Sadidan). Interaksi yang harmonis antara guru dan siswa, dengan menggunakan bahasa kekeluargaan dan kontrol yang tegas namun lembut, sangat penting.

Lingkungan belajar harus kondusif, sehat, dan bermartabat. Ini mencakup penyediaan ruang kelas yang bersih dan nyaman, serta fasilitas yang memadai. KBC juga mendorong terciptanya budaya kepedulian, kebersihan, kerapian, ketertiban, kesehatan, dan keindahan di lingkungan sekolah.

Tantangan dan Solusi

Implementasi KBC menghadapi beberapa tantangan, termasuk keragaman latar belakang siswa dan keterbatasan sumber daya. Untuk mengatasi ini, diperlukan pendekatan yang inklusif dan adaptif, seperti internalisasi pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan pemanfaatan teknologi yang relevan. Kontroversi terkait pemilihan karya sastra yang mungkin mengandung konten tidak etis atau informasi biografis yang tidak akurat juga menjadi perhatian. Oleh karena itu, kurasi dan pemilihan karya sastra harus dilakukan dengan cermat berdasarkan kategori usia dan nilai pendidikan, melibatkan penerbit, guru, sekolah, dan orang tua.

Kualitas pendidikan di Indonesia juga menghadapi berbagai isu, seperti lingkungan belajar yang kurang kondusif dan kurangnya pembangunan karakter. KBC, dengan mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan moral, berupaya mengatasi masalah ini dengan menciptakan lingkungan belajar yang holistik dan bermartabat.

Evaluasi

Pengukuran keberhasilan implementasi pendidikan karakter dalam KBC dilakukan melalui evaluasi berkelanjutan yang melibatkan semua pemangku kepentingan sekolah. Pendidik melakukan evaluasi untuk memantau proses, kemajuan, dan peningkatan hasil, menggunakan instrumen evaluasi yang sesuai untuk aspek kognitif, psikomotor, dan afektif. Untuk aspek afektif, teknik non-tes seperti observasi perkembangan siswa (sikap dan perilaku) selama dan di luar jam pelajaran lebih tepat digunakan. Keberhasilan KBC sangat bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan sekolah untuk mengimplementasikan kegiatan yang telah ditetapkan sebagai budaya sekolah, mengoptimalkan nilai-nilai karakter yang diinginkan pada siswa.

5. Kesimpulan

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam pendidikan Islam merupakan pendekatan transformatif yang berlandaskan pada Asma Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, dua sifat kasih sayang ilahi yang fundamental. Ar-Rahman, sebagai rahmat universal, mendorong manusia untuk mengembangkan empati dan toleransi terhadap seluruh ciptaan, sementara Ar-Rahim, sebagai rahmat spesifik bagi orang beriman, memotivasi amal saleh dan pembentukan karakter yang berorientasi pada tindakan nyata. Keseimbangan antara rahmat dan keadilan (Al-Adlu) dalam sifat-sifat Allah menegaskan bahwa KBC tidak hanya menanamkan kasih sayang, tetapi juga keadilan, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis. Pendekatan ini secara filosofis menantang fragmentasi pengetahuan dan eksistensi modern, menawarkan paradigma pendidikan yang holistik dan terintegrasi.

Implementasi KBC melalui lima pilar cinta—Hubbulloh wa Hubburrasul, Hubbul 'Ilmi, Hubbun Nafsi wan Nas, Hubbul Bi'ah, dan Hubbul Wathon—menunjukkan bagaimana nilai-nilai teologis diwujudkan dalam praktik pedagogis. Hubbulloh wa Hubburrasul melampaui ritual, membentuk karakter spiritual yang terinternalisasi. Hubbul 'Ilmi menjadikan pencarian pengetahuan sebagai jembatan antara rahmat universal dan ketaatan spesifik, mendorong pemahaman kritis dan etis. Hubbun Nafsi wan Nas berfungsi sebagai fondasi moderasi beragama dan resolusi konflik, membekali siswa dengan keterampilan untuk navigasi keberagaman. Hubbul Bi_ah mengintegrasikan ekoteologi, menjadikan kepedulian lingkungan sebagai manifestasi cinta ilahi dan ibadah. Terakhir, Hubbul Wathon menumbuhkan nasionalisme religius, memperkuat ketahanan bangsa dan menangkal radikalisme dengan membingkai loyalitas nasional sebagai kebajikan spiritual.

Secara keseluruhan, KBC merupakan upaya strategis untuk membentuk individu yang seimbang, berkarakter mulia, dan berkontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab ke dalam setiap aspek pendidikan, KBC berpotensi besar untuk mengatasi tantangan sosial dan moral di era kontemporer, mewujudkan masyarakat yang harmonis, inklusif, dan beradab. Keberhasilan implementasinya akan bergantung pada komitmen seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip ini melalui budaya sekolah, kurikulum terintegrasi, dan teladan dari para pendidik.

Daftar Pustaka

  • Hidayat, A., & Hidayat, A. (2015). Pendidikan Islam dan Lingkungan Hidup. Jurnal Pendidikan Islam, 4(2), 373–389.
  • Kementerian Agama Republik Indonesia. (2025). Apa Kurikulum Cinta Ini? Pengertian dan Strategi Implementasinya.
  • Kementerian Agama Republik Indonesia. (n.d.). Panduan Kurikulum Berbasis Cinta.
  • Khimjee, H. (2023). Beautiful Attributes: Ar-Rahman and Ar-Rahim. Organization for Islamic Learning.
  • MTsN 3 Bogor. (n.d.). Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin.
  • Murtafiah, N. H., & Ali, I. (2023). Implementasi Teori Organisasi Berbasis Nilai Spiritual Islami dalam Praktik Pendidikan. Jurnal Pendidikan, 1(1), 1677-1346.
  • Nurdiyanto, N., Jamal, J., Isnaini, N. A., & Yulianti, F. (2023). Landasan Filosofis-Teologis dalam Kurikulum Pendidikan Agama Islam. AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora, 4(1), 889-912.
  • Rahman, K. (2021). Pendidikan Karakter Berbasis Kurikulum Terintegrasi di Perguruan Tinggi Agama Islam. Journal of Islamic Education Research, 2(2), 169.
  • Sundari, S., & Muslih, H. (2023). Implikasi Pedagogis dalam Pendidikan Islam Anak Usia Dini pada Konsep Fitrah untuk Anak dalam Penafsiran Al-Qur'an Ibnu Katsir. ISLAMIKA, 5(1), 316-335.
  • Universitas Islam Negeri Mataram. (n.d.). Kurikulum Berbasis Cinta: Membangun Pendidikan yang Berorientasi pada Kasih Sayang dan Kemanusiaan.
  • Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. (2023). Konsep Hubbul Wathon Minal Iman Sebagai Tonggak Penguat Nasionalisme Indonesia.
  • UIN Suska Riau. (2024). Sastra dan Spiritualitas: Implementasi Nilai-Nilai Islam dalam Pembelajaran di Era Kurikulum Merdeka. POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam, 10(2), 265-271.
  • UIN Khas Jember. (n.d.). Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Spiritualias di Madrasah. Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 1(1), 1529-212.
  • UIN Metro. (n.d.). Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Elementary: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 6(2), 58-76.
  • STAIN Bengkalis Riau. (2025). Kurikulum Cinta Perspektif Islam.
  • Liputan6. (2024). Arti Ar-Rahman: Pahami Makna dan Keagungan Nama Allah yang Maha Pengasih.
  • Kemenag Sulteng. (2025). Kabid Madrasah: Kurikulum Cinta Perkuat Pendidikan Karakter Spiritual di Madrasah.
  • Jurnal Dharmawangsa. (n.d.). Prinsip Ar-Rahman Ar-Rahim dalam Desain Kurikulum Pendidikan Islam.
  • Jurnal Innovative. (n.d.). Filsafat Pendidikan Islam Kasih Sayang Allah Kurikulum Jurnal.
  • Jurnal Bintang Pendidikan Indonesia. (n.d.). Hakikat Metode Pendidikan Islam Dalam Presefektif Filsafat Pendidikan Islam.
  • TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam. (2020). Rekonstruksi Kurikulum Pendidikan Agama Islam: Analisis Model Kurikulum Rahmatan lil Alamin.
  • Women and CVE. (2023). Hubbul Wathon Minal Iman Sebagai Implementasi Nasionalisme.
  • YouTube. (n.d.). Integrasi Ar-Rahman Ar-Rahim dalam Kurikulum Pendidikan Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN BAHASA ARAB MA BERDASARKAN KEPUTUSAN DIRJEN PENDIS NOMOR 9941 TAHUN 2025

Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikembangkan, karena selain menjadi bahasa agama, juga berperan sebagai bahasa intern...