Selasa, 29 Juli 2025

Pembelajaran Bahasa Arab Berbantuan Gadget (HP): Menjembatani Dunia Siswa dan Membendung Arus Negatif Media Sosial

 

Di era digital ini, gadget, khususnya ponsel pintar (HP), telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan siswa. Alih-alih melarang total, pendekatan cerdas adalah mengintegrasikan teknologi ini ke dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pembelajaran Bahasa Arab, pemanfaatan HP tidak hanya dapat mendekatkan siswa dengan materi, tetapi juga menjadi benteng untuk mengurangi dampak negatif media sosial.

Mendekatkan Bahasa Arab dengan Dunia Siswa

Generasi sekarang adalah generasi digital native. Mereka tumbuh dengan akses informasi yang instan dan interaksi yang dinamis melalui gadget. Memaksakan metode pembelajaran konvensional yang minim sentuhan teknologi seringkali terasa jauh dan membosankan bagi mereka. Dengan memanfaatkan HP, pembelajaran Bahasa Arab bisa menjadi lebih relevan dan menarik:

  • Aplikasi Belajar Bahasa Arab Interaktif: Banyak aplikasi yang menawarkan pembelajaran kosakata, tata bahasa, dan percakapan Bahasa Arab dengan fitur-fitur menarik seperti kuis interaktif, permainan edukatif, hingga pengenalan karakter tulisan Arab. Aplikasi ini mengubah proses belajar yang tadinya pasif menjadi aktif dan menyenangkan.
  • Akses Kamus Digital dan Terjemahan Cepat: Siswa dapat dengan mudah mencari makna kata, frasa, atau bahkan menerjemahkan teks Bahasa Arab secara instan. Ini sangat membantu mereka dalam memahami materi dan mengerjakan tugas tanpa harus terpaku pada kamus fisik yang tebal.
  • Konten Video dan Audio Autentik: YouTube dan platform video lainnya menyediakan jutaan konten berbahasa Arab, mulai dari film, serial, berita, hingga ceramah. Siswa dapat mendengarkan pengucapan yang benar, memahami intonasi, dan memperkaya kosa kata dalam konteks nyata. Begitu juga dengan podcast atau audiobook berbahasa Arab yang dapat melatih kemampuan menyimak mereka.
  • Media Sosial Edukatif: Beberapa akun media sosial didedikasikan untuk pembelajaran Bahasa Arab, menyajikan kosakata harian, tata bahasa ringkas, atau bahkan percakapan singkat dalam format yang mudah dicerna. Guru dapat merekomendasikan atau bahkan membuat akun khusus untuk kelas mereka.
  • Pembelajaran Kolaboratif Online: Fitur grup diskusi atau video call di HP memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan teman-teman atau bahkan penutur asli Bahasa Arab untuk melatih kemampuan berbicara dan memahami budaya.

Membendung Arus Negatif Media Sosial

Salah satu kekhawatiran terbesar orang tua dan guru adalah dampak negatif media sosial seperti informasi hoaks, konten tidak pantas, cyberbullying, atau kecanduan. Dengan mengarahkan penggunaan HP untuk tujuan edukatif dalam pembelajaran Bahasa Arab, kita secara tidak langsung juga membendung arus negatif tersebut:

  • Mengalihkan Fokus dan Waktu Layar: Ketika siswa disibukkan dengan aplikasi belajar Bahasa Arab yang menarik atau mencari informasi terkait pelajaran, waktu mereka untuk menjelajahi media sosial yang kurang bermanfaat akan berkurang.
  • Meningkatkan Literasi Digital: Dengan menggunakan HP untuk tujuan pendidikan, siswa belajar memilah informasi yang relevan dan terpercaya. Mereka dilatih untuk kritis terhadap konten yang mereka akses, sebuah kemampuan penting untuk menghadapi dunia digital.
  • Memperkuat Tujuan Penggunaan Gadget: Guru dan orang tua dapat memberikan panduan jelas bahwa HP adalah alat yang bisa dimanfaatkan untuk hal-hal positif dan produktif, salah satunya adalah belajar Bahasa Arab. Ini mengubah persepsi siswa bahwa HP hanya untuk hiburan semata.
  • Menciptakan Lingkungan Belajar yang Terkontrol: Guru dapat memantau dan mengarahkan penggunaan HP di kelas atau melalui platform pembelajaran daring. Dengan demikian, siswa tetap berada dalam "koridor" edukasi yang aman.
  • Pengembangan Keterampilan Positif: Fokus pada pembelajaran Bahasa Arab melalui gadget mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan seperti riset, analisis, komunikasi, dan kolaborasi dalam lingkungan digital yang positif.

Penerapan dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Pemanfaatan gadget (HP) dalam pembelajaran Bahasa Arab memungkinkan integrasi berbagai jenis konten digital yang dapat mengoptimalkan setiap aspek keterampilan berbahasa. Berikut adalah rincian konten yang dapat digunakan:

1. Menyimak (استماع - Listening)

Keterampilan menyimak sangat krusial untuk memahami Bahasa Arab lisan, baik dalam percakapan sehari-hari maupun konteks formal. HP menyediakan beragam sumber audio-visual autentik:

  • Video dari YouTube/TikTok/Instagram:
    • Cerita Pendek/Dongeng Animasi Berbahasa Arab: Cocok untuk pemula, seringkali dengan visual yang membantu pemahaman konteks. Contoh: saluran anak-anak berbahasa Arab.
    • Video Vlog/Tutorial dari Penutur Asli: Memberikan paparan Bahasa Arab sehari-hari dengan intonasi dan kecepatan alami. Cari vlogger yang membahas topik minat siswa (misalnya, masak, traveling, game, teknologi) dalam Bahasa Arab.
    • Berita Singkat/Cuplikan Film/Serial TV Arab: Untuk tingkat menengah ke atas, melatih pemahaman informasi faktual dan konteks budaya.
    • Ceramah/Khutbah Singkat: Untuk siswa dengan minat keagamaan, melatih menyimak Bahasa Arab formal dan retorika.
    • Video Klip Musik/Nasyid: Mengandung lirik yang bisa diikuti, membantu pengenalan kosakata dan irama bahasa.
  • Aplikasi Podcast/Audiobook:
    • Podcast Pembelajaran Bahasa Arab: Banyak yang dirancang khusus untuk pelajar, dengan kecepatan bicara yang disesuaikan dan penjelasan.
    • Podcast Berita/Diskusi Topik Umum dalam Bahasa Arab: Untuk melatih pemahaman ide pokok dan detail.
    • Audiobook Cerita Klasik/Modern Berbahasa Arab: Meningkatkan perbendaharaan kata dan pemahaman naratif.
  • Aplikasi Belajar Bahasa Arab (dengan Fitur Menyimak):
    • Duolingo, Memrise, Mondly, Rosetta Stone: Menyediakan latihan menyimak frasa dan kalimat dengan rekaman suara penutur asli.
    • Aplikasi kamus (misal: Google Translate dengan fitur suara): Untuk mendengarkan pelafalan kata secara individu.
  • Media Sosial (X/Twitter, Facebook):
    • Video/audio pendek yang diunggah oleh akun-akun edukasi Bahasa Arab.
    • Siaran langsung (live) dari tokoh atau lembaga berbahasa Arab.

2. Berbicara (كلام - Speaking)

Mengembangkan kemampuan berbicara memerlukan latihan aktif dan interaksi. HP bisa menjadi "partner" latihan sekaligus jembatan ke interaksi nyata:

  • Aplikasi Perekam Suara (Built-in di HP):
    • Siswa dapat merekam diri saat membaca teks berbahasa Arab, menjawab pertanyaan, atau berdialog, kemudian mendengarkan kembali untuk mengoreksi pelafalan dan intonasi.
    • Guru dapat memberikan tugas merekam respons lisan terhadap suatu prompt.
  • Aplikasi Belajar Bahasa Arab (dengan Fitur Berbicara/Speech Recognition):
    • Banyak aplikasi (Duolingo, ELSA Speak, Speaky) yang memiliki fitur pengenalan suara, memungkinkan siswa berlatih mengucapkan kata/frasa dan mendapatkan umpan balik langsung.
  • Aplikasi Pesan Instan (WhatsApp, Telegram) & Video Call (Zoom, Google Meet):
    • Grup Percakapan Suara/Video: Siswa dapat membuat grup dengan teman sekelas untuk berlatih percakapan santai.
    • Pertukaran Bahasa (Language Exchange) dengan Penutur Asli: Aplikasi seperti HelloTalk atau Tandem menghubungkan siswa dengan penutur asli Bahasa Arab untuk percakapan.
    • Proyek Presentasi Lisan: Siswa merekam presentasi singkat berbahasa Arab mengenai topik tertentu dan mengunggahnya.
  • Permainan Peran (Role-Play) Virtual: Guru bisa membuat skenario percakapan yang siswa lakukan melalui voice note atau video call.
  • Fitur Voice Assistant (Google Assistant/Siri): Meskipun belum sempurna untuk Bahasa Arab, bisa digunakan untuk latihan dasar seperti menanyakan cuaca atau mencari informasi sederhana dalam Bahasa Arab.

3. Membaca-Memirsa (قراءة ومشاهدة - Reading & Viewing)

Keterampilan ini melibatkan pemahaman teks tertulis dan visual. HP adalah gerbang menuju perpustakaan digital tak terbatas:

  • Aplikasi Berita/Majalah Digital Berbahasa Arab:
    • Al Jazeera, BBC Arabic, Sky News Arabia: Untuk melatih pemahaman teks berita formal dan isu terkini.
    • Majalah anak-anak atau remaja berbahasa Arab: Dengan gaya bahasa yang lebih sederhana dan visual menarik.
  • E-book Reader/Aplikasi PDF:
    • Membaca cerita pendek, novel, atau materi ajar Bahasa Arab dalam format digital. Banyak situs menyediakan e-book gratis.
    • Aplikasi dengan fitur highlight, notes, atau kamus terintegrasi sangat membantu.
  • Media Sosial (Instagram, Facebook, Pinterest):
    • Infografis/Poster Edukasi: Akun-akun yang menyajikan kosakata, frasa, atau informasi tata bahasa dalam bentuk visual yang menarik dan mudah dicerna.
    • Postingan Blog/Artikel Singkat: Banyak blogger atau lembaga pendidikan mempublikasikan konten singkat berbahasa Arab.
    • Membaca Komentar/Diskusi: Melatih pemahaman Bahasa Arab informal dalam konteks interaksi sosial.
  • Website/Portal Pembelajaran Bahasa Arab:
    • Al-Jazeera Learning, Arab Academy: Menawarkan berbagai teks bacaan dengan level berbeda, seringkali dilengkapi dengan soal latihan.
  • Aplikasi Kamus Online/Penerjemah:
    • Google Translate, Almaany: Berguna untuk mencari makna kata yang tidak diketahui saat membaca.
  • Komik Digital (Webtoon) Berbahasa Arab: Menarik minat siswa dengan kombinasi teks dan gambar.

4. Menulis-Mempresentasikan (كتابة وعرض - Writing & Presenting)

Mengembangkan kemampuan menulis dan menyajikan ide dalam Bahasa Arab. HP memfasilitasi penulisan cepat dan presentasi digital:

  • Aplikasi Catatan/Word Processor (Google Docs, Microsoft Word Mobile, Notes):
    • Menulis esai, ringkasan, atau diary harian dalam Bahasa Arab.
    • Membuat daftar kosakata atau kalimat contoh.
    • Mencatat ide-ide untuk presentasi.
  • Aplikasi Pesan Instan (WhatsApp, Telegram):
    • Berlatih menulis pesan singkat atau balasan dalam Bahasa Arab.
    • Berpartisipasi dalam grup chat berbahasa Arab.
    • Guru dapat memberikan "writing prompt" harian yang harus dijawab siswa secara tertulis.
  • Media Sosial (Instagram, Facebook, X/Twitter):
    • Menulis caption berbahasa Arab untuk foto/video.
    • Menulis status atau tweet singkat.
    • Berkomentar dalam Bahasa Arab di postingan edukasi.
  • Aplikasi Presentasi (Google Slides, Microsoft PowerPoint Mobile):
    • Mendesain slide presentasi berbahasa Arab dengan mudah.
    • Menggabungkan teks, gambar, dan mungkin video.
    • Siswa dapat merekam narasi presentasi mereka menggunakan fitur perekam suara HP.
  • Aplikasi Papan Tulis Kolaboratif (Jamboard, Miro):
    • Membuat mind map atau outline ide presentasi secara kolaboratif dalam Bahasa Arab.
  • Keyboard Virtual Bahasa Arab: Memastikan siswa dapat mengetik huruf Arab dengan mudah di HP mereka.

5. Tata Bahasa (قواعد - Grammar)

Pemahaman tata bahasa adalah fondasi akurasi berbahasa. HP menyediakan sumber belajar yang interaktif dan repetitif:

  • Aplikasi Belajar Bahasa Arab (dengan Fokus Tata Bahasa):
    • Rosetta Stone, ArabicPod101, Quranic Arabic Apps: Banyak aplikasi yang memiliki modul khusus untuk tata bahasa, menyajikan aturan, contoh, dan latihan.
    • Aplikasi flashcard (AnkiDroid): Membuat kartu kosakata dengan contoh kalimat yang menyoroti kaidah tata bahasa tertentu.
  • Website/Portal Pembelajaran Tata Bahasa Arab:
    • Banyak situs menyediakan penjelasan tata bahasa, tabel konjugasi kata kerja, dan latihan interaktif.
  • Video Tutorial Tata Bahasa di YouTube:
    • Saluran edukasi yang menjelaskan kaidah tata bahasa secara visual dan auditif, seringkali dengan animasi atau contoh sederhana.
  • Infografis/Poster Digital di Media Sosial:
    • Akun-akun edukasi seringkali merangkum kaidah tata bahasa kompleks menjadi visual yang mudah diingat.
  • Aplikasi Kamus dengan Fungsi Tata Bahasa:
    • Beberapa kamus modern tidak hanya memberikan arti, tetapi juga konjugasi kata kerja, bentuk jamak, atau penggunaan dalam konteks kalimat.
  • Latihan Interaktif/Kuis Online:
    • Platform seperti Quizlet, Kahoot!, atau bahkan Google Forms dapat digunakan untuk membuat kuis tata bahasa yang menarik dan dapat diakses dari HP.

Dengan memanfaatkan keragaman konten ini, guru dapat merancang pengalaman belajar Bahasa Arab yang tidak hanya efektif tetapi juga sangat sesuai dengan preferensi dan gaya belajar generasi digital. Ini adalah kunci untuk menjadikan Bahasa Arab tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai keterampilan hidup yang relevan dan menyenangkan.

Tantangan dan Solusi

Meskipun potensi pemanfaatan gadget dalam pembelajaran Bahasa Arab sangat besar, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi:

  • Akses dan Fasilitas: Tidak semua siswa memiliki akses atau HP yang memadai. Solusinya bisa berupa penyediaan fasilitas bersama di sekolah atau penggunaan model bring your own device (BYOD) yang didukung kebijakan sekolah.
  • Kurikulum dan Pelatihan Guru: Kurikulum perlu diperbarui agar lebih adaptif terhadap teknologi. Guru juga memerlukan pelatihan memadai untuk menguasai berbagai aplikasi dan strategi pembelajaran berbasis gadget.
  • Disiplin Penggunaan: Penting untuk menetapkan aturan yang jelas mengenai penggunaan HP di kelas agar tidak mengganggu konsentrasi. Guru perlu kreatif dalam membuat kegiatan yang menarik agar siswa fokus pada pelajaran.
  • Pengawasan dan Pendampingan: Orang tua dan guru perlu terus mengawasi dan mendampingi siswa dalam penggunaan HP agar mereka tetap pada jalur edukasi yang positif.

Kesimpulan

Pembelajaran Bahasa Arab berbantuan gadget (HP) bukanlah sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan di era digital ini. Dengan pendekatan yang tepat, HP dapat menjadi jembatan yang mendekatkan siswa dengan Bahasa Arab, membuatnya lebih relevan dan menarik. Lebih dari itu, pemanfaatan teknologi ini secara cerdas dapat mengalihkan fokus siswa dari dampak negatif media sosial, membimbing mereka menuju penggunaan gadget yang lebih produktif dan bermanfaat. Ini adalah langkah maju untuk menciptakan generasi yang cakap berbahasa Arab sekaligus melek digital secara positif.

Senin, 28 Juli 2025

Optimalisasi Kualitas Evaluasi: Menggali Manfaat Panduan Penulisan Soal Tes Akademik Terstandar Tahun 2025 Pusmendik

 

Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah secara konsisten berupaya meningkatkan kualitas sistem evaluasi pendidikan di Indonesia. Salah satu langkah konkret yang patut diapresiasi adalah perilisan Panduan Penulisan Soal Tes Akademik TerstandarTahun 2025. Panduan ini bukan sekadar dokumen administratif, melainkan sebuah instrumen krusial yang membawa beragam manfaat signifikan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem pendidikan.

Meningkatkan Validitas dan Reliabilitas Soal Tes

Manfaat utama dari panduan ini adalah peningkatan validitas dan reliabilitas soal tes. Dengan adanya standar yang jelas mengenai format, konten, tingkat kesulitan, dan kriteria penilaian, soal-soal yang dihasilkan akan lebih akurat dalam mengukur kompetensi peserta didik. Validitas soal memastikan bahwa soal memang mengukur apa yang seharusnya diukur, sementara reliabilitas menjamin konsistensi hasil tes jika diujikan berulang kali pada kondisi yang sama. Hal ini akan mengurangi bias dan ketidakadilan dalam evaluasi.

Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Evaluasi

Panduan terstandar memastikan bahwa setiap peserta didik, di mana pun mereka berada, diuji dengan instrumen yang memiliki standar kualitas yang sama. Ini meminimalisir disparitas kualitas soal antar daerah atau antar lembaga pendidikan. Dengan demikian, proses seleksi atau pemetaan kompetensi menjadi lebih adil dan objektif, memberikan kesempatan yang setara bagi semua individu untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Panduan Komprehensif bagi Penulis Soal

Bagi para penyusun soal, panduan ini adalah referensi yang tak ternilai. Panduan ini biasanya mencakup petunjuk teknis yang detail, mulai dari penyusunan kisi-kisi, pemilihan stimulus, perumusan opsi jawaban, hingga kaidah kebahasaan yang tepat. Dengan berpegangan pada panduan ini, penulis soal dapat menghindari kesalahan umum, memastikan kesesuaian soal dengan kurikulum, dan menghasilkan butir soal yang bermutu tinggi. Ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan profesionalisme para pengembang soal di seluruh Indonesia.

Memudahkan Analisis dan Pemetaan Hasil Belajar

Soal tes yang terstandar akan mempermudah proses analisis dan pemetaan hasil belajar secara nasional. Data yang terkumpul dari tes yang terstandar lebih mudah diinterpretasikan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam sistem pendidikan. Informasi ini sangat berharga bagi pembuat kebijakan untuk merumuskan intervensi yang tepat, mengevaluasi efektivitas program pembelajaran, dan mengidentifikasi area-area yang memerlukan perhatian lebih.

Mendukung Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran

Dengan adanya data hasil tes yang valid dan reliabel, Pusmendik dapat memberikan umpan balik yang lebih akurat kepada unit-unit pengembangan kurikulum. Hasil tes dapat menjadi cerminan keberhasilan atau tantangan dalam implementasi kurikulum, memberikan masukan berharga untuk penyempurnaan di masa mendatang. Selain itu, guru juga dapat memanfaatkan informasi ini untuk menyesuaikan strategi pembelajaran mereka agar lebih efektif dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi tes terstandar.

Mendorong Akuntabilitas dalam Pendidikan

Panduan penulisan soal tes akademik terstandar juga berkontribusi pada peningkatan akuntabilitas dalam dunia pendidikan. Dengan adanya standar yang jelas, kinerja lembaga pendidikan dan individu dapat dievaluasi secara lebih transparan dan objektif. Ini mendorong semua pihak untuk berupaya maksimal dalam mencapai target pembelajaran dan memastikan bahwa sumber daya pendidikan dimanfaatkan secara optimal.

Kesimpulan

Panduan Penulisan Soal Tes Akademik Terstandar Tahun 2025 yang dirilis oleh Pusmendik Kemendikdasmen merupakan langkah maju yang signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan fokus pada validitas, reliabilitas, keadilan, dan kemudahan analisis, panduan ini diharapkan dapat membawa dampak positif yang luas, mulai dari peningkatan kualitas soal, pengembangan profesionalisme penulis soal, hingga perbaikan sistem evaluasi dan pembelajaran secara menyeluruh. Keberhasilan implementasinya akan menjadi kunci dalam mewujudkan sistem pendidikan yang lebih berkualitas dan berkeadilan bagi seluruh anak bangsa.

Senin, 21 Juli 2025

Urgensi Pedoman Penilaian dan Pedoman Distribusi Penilaian dalam Asesmen Bahasa Arab

 Abstrak

Asesmen dalam pembelajaran bahasa Arab memiliki peran krusial dalam mengukur keberhasilan proses pendidikan. Namun, seringkali pelaksanaan asesmen kurang terstandardisasi, menyebabkan bias dan inkonsistensi. Artikel ini membahas urgensi keberadaan pedoman penilaian dan pedoman distribusi penilaian baku dalam asesmen bahasa Arab. Pedoman penilaian memberikan kerangka kerja yang jelas untuk mengukur kompetensi berbahasa secara objektif, meliputi aspek-aspek maharah (keterampilan) dan qawa'id (tata bahasa). Sementara itu, pedoman distribusi penilaian memastikan alokasi bobot yang proporsional untuk setiap komponen, mencerminkan tujuan dan fokus kurikulum. Kehadiran kedua pedoman ini esensial untuk meningkatkan validitas, reliabilitas, objektivitas, dan keadilan asesmen, yang pada akhirnya akan mendukung peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Arab secara keseluruhan.

Kata Kunci: Asesmen Bahasa Arab, Pedoman Penilaian, Pedoman Distribusi Penilaian, Validitas, Reliabilitas, Objektivitas.

Pendahuluan

Pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, baik di lembaga pendidikan formal maupun non-formal, terus berkembang seiring dengan peningkatan minat terhadap bahasa Al-Qur'an dan kebutuhan komunikasi global. Dalam setiap proses pembelajaran, asesmen atau penilaian menjadi tahapan yang tak terpisahkan. Asesmen berfungsi tidak hanya sebagai alat untuk mengukur capaian belajar siswa, tetapi juga sebagai umpan balik bagi guru untuk mengevaluasi efektivitas metode pengajaran yang digunakan. Hasil asesmen yang akurat dan komprehensif sangat penting untuk menentukan tingkat penguasaan bahasa siswa, mengidentifikasi area kekuatan dan kelemahan, serta merancang intervensi pembelajaran yang tepat.

Namun, dalam praktiknya, asesmen bahasa Arab seringkali menghadapi berbagai tantangan, termasuk kurangnya standardisasi dalam penyusunan instrumen, kriteria penilaian yang tidak jelas, dan penentuan bobot nilai yang subjektif. Kondisi ini dapat menyebabkan inkonsistensi hasil asesmen, ketidakadilan bagi siswa, serta kesulitan dalam membandingkan capaian belajar antar siswa atau antar lembaga. Oleh karena itu, kebutuhan akan adanya pedoman penilaian dan pedoman distribusi penilaian yang baku dan terperinci menjadi sangat mendesak.

Pedoman Penilaian dalam Asesmen Bahasa Arab: Pilar Objektivitas dan Konsistensi

Pedoman penilaian (rubric) adalah seperangkat kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas kinerja siswa. Dalam konteks asesmen bahasa Arab, pedoman ini harus mencakup indikator-indikator spesifik untuk setiap komponen kebahasaan. Komponen-komponen utama dalam pembelajaran bahasa Arab umumnya meliputi:

1. Mufrodat dan Uslub (Kosakata dan Gaya Bahasa/Ungkapan): Mengukur penguasaan kosa kata aktif dan pasif serta kemampuan menggunakan ungkapan idiomatik yang tepat.

2.      Istima' (Menyimak): Menilai kemampuan memahami informasi lisan.

3. Kalam (Berbicara): Mengukur kemampuan berkomunikasi lisan dengan aspek kefasihan, akurasi, dan pelafalan.

4.   Qira'ah (Membaca): Menilai kemampuan memahami teks tertulis secara literal dan inferensial.

5.  Kitabah (Menulis): Mengukur kemampuan mengungkapkan ide secara tertulis dengan benar dan terstruktur.

6.   Qawa'id (Tata Bahasa): Menilai pemahaman dan penerapan kaidah nahwu dan shorof.

Urgensi pedoman penilaian terletak pada kemampuannya untuk:

  • Meningkatkan Objektivitas: Dengan kriteria yang jelas, penilaian tidak lagi bergantung pada impresi subjektif penilai, melainkan pada bukti kinerja siswa yang terukur. Hal ini meminimalisir bias pribadi guru.
  • Meningkatkan Reliabilitas: Pedoman yang baku memastikan bahwa hasil penilaian akan konsisten, terlepas dari siapa penilainya atau kapan penilaian dilakukan. Ini berarti dua penilai yang berbeda akan cenderung memberikan skor yang sama untuk kinerja yang sama.
  • Memberikan Umpan Balik yang Konkret: Rubrik penilaian memungkinkan guru memberikan umpan balik yang spesifik kepada siswa mengenai area yang perlu diperbaiki. Siswa dapat melihat dengan jelas di mana letak kesalahan dan bagaimana cara memperbaikinya.
  • Mengarahkan Pembelajaran: Dengan mengetahui kriteria penilaian sejak awal, siswa dapat memfokuskan upaya belajarnya pada aspek-aspek yang dinilai. Demikian pula, guru dapat merancang kegiatan pembelajaran yang secara langsung mendukung pencapaian kriteria tersebut.
  • Memfasilitasi Penilaian Formatif dan Sumatif: Pedoman ini dapat digunakan baik untuk penilaian formatif (untuk perbaikan proses) maupun sumatif (untuk mengukur capaian akhir), memberikan kerangka kerja yang fleksibel namun terstruktur.

Tanpa pedoman penilaian yang jelas, asesmen bahasa Arab berisiko menjadi kabur, tidak adil, dan kurang informatif, sehingga gagal memberikan gambaran yang akurat tentang kompetensi siswa.

Pedoman Distribusi Penilaian: Menjamin Proporsionalitas dan Fokus Kurikulum

Selain pedoman penilaian untuk setiap komponen, keberadaan pedoman distribusi penilaian (bobot nilai) juga sangat vital. Pedoman ini menentukan berapa persentase atau bobot nilai yang dialokasikan untuk setiap komponen asesmen (misalnya, Mufrodat, Istima', Kalam, dll.) dari total nilai keseluruhan.

Urgensi pedoman distribusi penilaian meliputi:

  • Mencerminkan Fokus Kurikulum: Bobot nilai yang berbeda untuk setiap komponen harus mencerminkan tujuan dan penekanan kurikulum yang berlaku. Misalnya, jika kurikulum menekankan aspek komunikatif, maka komponen Kalam dan Istima' mungkin memiliki bobot lebih besar dibandingkan dengan Qawa'id semata.
  • Mengarahkan Prioritas Belajar Siswa: Dengan mengetahui distribusi bobot nilai, siswa dapat mengalokasikan waktu dan usaha belajarnya secara proporsional. Mereka akan memahami bahwa beberapa keterampilan atau aspek bahasa dianggap lebih penting daripada yang lain dalam konteks pembelajaran tersebut.
  • Meningkatkan Transparansi Asesmen: Distribusi bobot yang jelas membuat proses penilaian lebih transparan bagi siswa, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya. Semua pihak dapat memahami bagaimana nilai akhir diperoleh.
  • Mencegah Penilaian yang Tidak Seimbang: Tanpa pedoman distribusi, seorang guru mungkin secara tidak sengaja memberikan bobot terlalu besar pada satu aspek (misalnya, tata bahasa) dan mengabaikan aspek penting lainnya (misalnya, kefasihan berbicara), sehingga hasil asesmen tidak merepresentasikan kompetensi bahasa siswa secara holistik.
  • Memfasilitasi Konsistensi Antar Kelas/Guru: Pedoman distribusi memastikan bahwa siswa di kelas atau di bawah bimbingan guru yang berbeda dinilai dengan standar bobot yang sama, meningkatkan keadilan dan komparabilitas hasil.

Sebagai contoh, jika sebuah kurikulum bahasa Arab bertujuan agar siswa fasih berbicara, maka komponen Kalam (berbicara) sebaiknya memiliki bobot nilai yang signifikan. Sebaliknya, jika fokusnya adalah pemahaman teks klasik, maka Qira'ah (membaca) dan Qawa'id (tata bahasa) mungkin diberikan bobot yang lebih tinggi. Fleksibilitas dalam penentuan bobot ini harus tetap berada dalam koridor pedoman yang terdefinisi dengan baik.

Implikasi dan Rekomendasi

Penyusunan dan implementasi pedoman penilaian serta pedoman distribusi penilaian yang baku dalam asesmen bahasa Arab memiliki implikasi positif yang luas:

  • Peningkatan Kualitas Asesmen: Asesmen menjadi lebih valid (mengukur apa yang seharusnya diukur), reliabel (konsisten), dan objektif (adil).
  • Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Guru memiliki panduan yang jelas dalam merancang kegiatan pembelajaran dan memberikan umpan balik, sementara siswa memiliki arah yang jelas dalam proses belajar.
  • Peningkatan Motivasi Belajar Siswa: Siswa merasa lebih yakin dan termotivasi karena tahu persis apa yang diharapkan dari mereka dan bagaimana kinerja mereka akan dinilai.
  • Dasar Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik: Hasil asesmen yang akurat menjadi dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan terkait kelulusan, penempatan siswa, atau pengembangan kurikulum.

Untuk mencapai urgensi tersebut, direkomendasikan beberapa langkah:

1. Pengembangan Pedoman Nasional: Lembaga-lembaga terkait, seperti Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, perlu berkolaborasi dalam mengembangkan pedoman penilaian dan distribusi penilaian baku yang komprehensif untuk setiap jenjang pendidikan, sesuai dengan Kurikulum yang berlaku (misalnya, KMA 183/2019 untuk Madrasah atau Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka untuk Sekolah Umum).

2.  Sosialisasi dan Pelatihan: Guru-guru bahasa Arab harus mendapatkan sosialisasi dan pelatihan yang memadai mengenai penggunaan pedoman ini, termasuk cara merancang instrumen penilaian berbasis rubrik.

3. Evaluasi Berkala: Pedoman harus dievaluasi dan diperbarui secara berkala untuk memastikan relevansinya dengan perkembangan kurikulum dan kebutuhan pembelajaran bahasa Arab.

Kesimpulan

Keberadaan pedoman penilaian dan pedoman distribusi penilaian adalah fondasi esensial untuk menciptakan asesmen bahasa Arab yang efektif, adil, dan bermakna. Pedoman penilaian memastikan objektivitas dan konsistensi dalam mengukur kompetensi, sementara pedoman distribusi memastikan proporsionalitas bobot nilai yang selaras dengan tujuan kurikulum. Menerapkan kedua pedoman ini bukan hanya sekadar formalitas administrasi, melainkan sebuah urgensi fundamental untuk meningkatkan kualitas asesmen, yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kualitas pembelajaran dan penguasaan bahasa Arab siswa di Indonesia.

Minggu, 13 Juli 2025

Contoh Soal Tes Kemampuan Awal Bahasa Arab Murid Baru Madrasah Aliyah

 

Pentingnya Tes Kemampuan Awal Bahasa Arab bagi Murid Baru Madrasah Aliyah

Bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran inti di Madrasah Aliyah (MA), bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai kunci untuk memahami sumber-sumber ajaran Islam. Bagi murid baru, transisi dari jenjang sebelumnya bisa jadi menantang, terutama jika latar belakang kemampuan Bahasa Arab mereka beragam. Di sinilah tes kemampuan awal Bahasa Arab memegang peranan krusial. Tes ini bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen vital untuk memastikan proses pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan.

Mengapa Tes Kemampuan Awal Sangat Penting?

Ada beberapa alasan mendasar mengapa setiap Madrasah Aliyah harus menerapkan tes kemampuan awal Bahasa Arab untuk murid baru:

  • Pemetaan Kompetensi Awal: Setiap murid datang dengan bekal pengetahuan dan keterampilan Bahasa Arab yang berbeda. Ada yang mungkin lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dengan kurikulum Bahasa Arab yang kuat, ada pula yang berasal dari sekolah umum dengan sedikit atau tanpa paparan Bahasa Arab. Tes ini memungkinkan guru untuk memetakan tingkat penguasaan kosa kata, tata bahasa (nahwu dan sharaf), kemampuan membaca, menulis, dan bahkan berbicara pada setiap individu.
  • Identifikasi Kesenjangan Pembelajaran: Dengan hasil tes, guru dapat dengan cepat mengidentifikasi murid yang memiliki pemahaman di bawah standar atau bahkan belum memiliki dasar sama sekali. Sebaliknya, murid yang sudah menguasai materi juga dapat teridentifikasi. Ini memungkinkan madrasah untuk mengatasi kesenjangan sejak dini.
  • Penyesuaian Kurikulum dan Materi Ajar: Informasi dari tes kemampuan awal sangat berharga untuk menyesuaikan kurikulum dan materi ajar. Jika mayoritas murid memiliki kemampuan dasar yang lemah, guru dapat memulai dengan materi pengantar yang lebih intensif. Sebaliknya, jika banyak murid yang sudah cakap, materi bisa lebih difokuskan pada tingkat yang lebih lanjut atau bahkan pengayaan.
  • Pembentukan Kelompok Belajar (Grouping): Berdasarkan hasil tes, madrasah dapat mempertimbangkan pembentukan kelompok belajar yang lebih homogen. Murid dengan kemampuan setara dapat ditempatkan dalam satu kelas atau kelompok khusus untuk memudahkan guru dalam menyampaikan materi yang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Ini juga membuka peluang untuk kelas remedial bagi yang membutuhkan dan kelas pengayaan bagi yang sudah mahir.
  • Penyusunan Strategi Pembelajaran yang Tepat: Guru dapat merancang strategi dan metode pembelajaran yang lebih personal dan efektif. Misalnya, untuk murid dengan kemampuan membaca yang rendah, fokus bisa diberikan pada latihan membaca intensif. Sementara itu, untuk murid yang sudah lancar, guru bisa mendorong mereka untuk berdiskusi dalam Bahasa Arab atau menganalisis teks-teks yang lebih kompleks.
  • Meningkatkan Motivasi Belajar: Ketika murid merasa bahwa materi yang diajarkan sesuai dengan level mereka, motivasi belajar akan meningkat. Murid yang kesulitan tidak akan merasa tertinggal jauh, sementara murid yang cepat tidak akan merasa bosan. Ini menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif.
  • Evaluasi Program Pembelajaran Sebelumnya: Secara tidak langsung, hasil tes kemampuan awal juga dapat menjadi indikator efektivitas program pembelajaran Bahasa Arab di jenjang sebelumnya (misalnya MTs). Data ini bisa menjadi masukan berharga bagi madrasah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Bahasa Arab secara menyeluruh.

Pelaksanaan Tes yang Efektif

Agar tes kemampuan awal ini memberikan hasil yang maksimal, beberapa hal perlu diperhatikan dalam pelaksanaannya:

  • Desain Tes yang Komprehensif: Tes harus mencakup berbagai aspek Bahasa Arab, mulai dari penguasaan kosa kata, tata bahasa (nahwu dan sharaf), pemahaman bacaan, hingga kemampuan menulis dan mendengarkan (jika memungkinkan).
  • Waktu Pelaksanaan yang Tepat: Idealnya, tes dilakukan di awal tahun ajaran baru, bahkan sebelum proses pembelajaran Bahasa Arab inti dimulai.
  • Analisis Hasil yang Mendalam: Hasil tes harus dianalisis secara cermat dan ditindaklanjuti dengan program yang relevan.
  • Transparansi dan Umpan Balik: Hasil tes sebaiknya dikomunikasikan kepada murid dan orang tua agar mereka memahami posisi awal dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

Kesimpulan

Tes kemampuan awal Bahasa Arab bagi murid baru Madrasah Aliyah bukanlah sekadar prosedur administratif, melainkan investasi penting untuk keberhasilan pembelajaran Bahasa Arab di madrasah. Dengan pemetaan yang akurat, penyesuaian kurikulum, dan strategi pembelajaran yang tepat, madrasah dapat memastikan bahwa setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan menguasai Bahasa Arab, membuka pintu gerbang menuju pemahaman yang lebih dalam terhadap ilmu-ilmu keislaman.


Jumat, 11 Juli 2025

Landasan Filosofis Pembelajaran Bahasa Arab di Era Modern

 A. Pendahuluan

Landasan filosofis penting dalam pembelajaran karena memberikan dasar pemikiran dan panduan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar. Landasan ini membantu pendidik untuk memahami tujuan pendidikan, menentukan materi yang relevan, memilih metode pembelajaran yang efektif, serta menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa landasan filosofis penting dalam pembelajaran:

1. Menentukan Arah dan Tujuan Pendidikan:

Landasan filosofis memberikan kerangka pemikiran tentang apa yang ingin dicapai dalam pendidikan. Aliran-aliran filsafat seperti idealisme, realisme, dan pragmatisme memberikan perspektif berbeda mengenai tujuan pendidikan, seperti pengembangan potensi individu, pembentukan karakter, atau penerapan pengetahuan untuk memecahkan masalah.

2. Memilih Materi Pembelajaran yang Tepat:

Landasan filosofis membantu pendidik memilih materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Misalnya, jika tujuan pendidikan adalah membentuk karakter yang kuat, maka materi pembelajaran akan difokuskan pada nilai-nilai moral dan etika.

3. Memilih Metode Pembelajaran yang Efektif:

Landasan filosofis juga berperan dalam menentukan metode pembelajaran yang paling sesuai. Metode yang dipilih harus sejalan dengan tujuan pendidikan dan karakteristik peserta didik. Beberapa metode pembelajaran yang dipengaruhi oleh landasan filosofis antara lain pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran konstruktivistik, dan pembelajaran berbasis proyek.

4. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif:

Landasan filosofis membantu pendidik menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung perkembangan peserta didik. Lingkungan belajar yang kondusif akan mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan termotivasi dalam belajar.

5. Mengembangkan Karakter Peserta Didik:

Landasan filosofis membantu pendidik dalam menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada peserta didik. Dengan memahami landasan filosofis pendidikan, pendidik dapat mengembangkan kurikulum dan metode pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik.

6. Menghindari Kesalahan Konseptual:

Memahami landasan filosofis membantu pendidik menghindari kesalahan konseptual dalam praktik pendidikan. Dengan memiliki pemahaman yang kuat tentang tujuan pendidikan dan nilai-nilai yang ingin dicapai, pendidik dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam melaksanakan proses pembelajaran.

7. Mengembangkan Sistem Pendidikan yang Berkelanjutan:

Landasan filosofis juga penting dalam pengembangan sistem pendidikan secara keseluruhan. Dengan mempertimbangkan landasan filosofis yang kuat, sistem pendidikan dapat dirancang untuk mencapai tujuan yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, landasan filosofis bukan hanya sekedar teori, tetapi merupakan dasar yang sangat penting dalam praktik pendidikan. Landasan ini memberikan arah, tujuan, dan panduan bagi pendidik dalam melaksanakan tugasnya untuk membentuk generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deeper Learning) dan Kurikulum Cinta. Keduanya memastikan bahwa proses belajar bahasa Arab tidak hanya berhenti pada penguasaan materi, tetapi juga menyentuh pengembangan kompetensi dan karakter siswa secara holistik.

B. Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deeper Learning Approach)

Pendekatan Pembelajaran Mendalam adalah sebuah pendekatan yang bertujuan agar siswa tidak hanya mengetahui (surface learning), tetapi benar-benar menguasai konten inti akademik sambil mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, berkolaborasi, dan belajar secara mandiri.

Ini adalah antitesis dari pembelajaran dangkal yang berfokus pada hafalan jangka pendek untuk ujian. Dalam konteks bahasa Arab, perbedaannya sangat signifikan:

Aspek

Pembelajaran Dangkal (Surface Learning)

Pembelajaran Mendalam (Deeper Learning)

Tujuan Mufrodat

Siswa hafal 50 mufrodat baru tentang "pasar".

Siswa menggunakan mufrodat tentang "pasar" untuk membuat proyek simulasi jual-beli, menawar, dan mendeskripsikan barang dalam sebuah video vlog.

Tujuan Qawa'id

Siswa hafal rumus dan i'rab dari Mubtada' Khabar.

Siswa menganalisis penggunaan Mubtada' Khabar dalam Surat Al-Fatihah untuk memahami makna penekanan, lalu menciptakan kalimat-kalimat deskriptif tentang teman sekelasnya menggunakan pola yang sama.

Aktivitas Membaca

Siswa menjawab 5W+1H dari sebuah teks bacaan.

Siswa mengevaluasi sudut pandang penulis dalam sebuah artikel berita berbahasa Arab, membandingkannya dengan sumber lain, dan berdebat mengenai isu yang diangkat.

Enam Pilar Pembelajaran Mendalam yang Diterapkan dalam Kelas Bahasa Arab:

1.      Menguasai Konten Inti (Mastery of Core Content): Siswa harus memahami qawa'id, mufrodat, dan tarkib dasar. Namun, tujuannya bukan hafalan, melainkan pemahaman fungsional.

2.      Berpikir Kritis & Memecahkan Masalah (Critical Thinking & Problem Solving): Siswa diberi teks atau kasus (misalnya, surat pembaca dalam bahasa Arab) dan diminta menganalisis masalah serta menawarkan solusi.

3.      Kolaborasi (Collaboration): Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan proyek, seperti membuat drama pendek, majalah dinding, atau podcast dalam bahasa Arab.

4.      Komunikasi Efektif (Effective Communication): Penekanan pada kemampuan menyampaikan gagasan secara lisan (kalam) dan tulisan (kitabah) dengan jelas dan persuasif dalam konteks nyata.

5.      Belajar Cara Belajar (Learning How to Learn): Siswa diajarkan strategi untuk belajar bahasa secara mandiri, misalnya cara menggunakan kamus digital, mencari sumber belajar otentik di internet, atau merefleksikan kesalahan berbahasa untuk perbaikan.

6.      Memiliki Pola Pikir Akademis (Academic Mindset): Menumbuhkan keyakinan pada siswa bahwa mereka mampu belajar dan menguasai bahasa Arab. Guru menciptakan lingkungan yang mendukung growth mindset (pola pikir bertumbuh).

Pendekatan ini sangat selaras dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka, di mana siswa menerapkan pengetahuan lintas disiplin untuk memecahkan masalah nyata.

C. Kurikulum Cinta (The Curriculum of Love)

Jika Pembelajaran Mendalam adalah "otak" dari pedagogi modern, maka Kurikulum Cinta adalah "hatinya". Ini bukanlah dokumen kurikulum formal, melainkan sebuah filosofi dan pendekatan pedagogis yang menempatkan hubungan (koneksi), empati, dan kebahagiaan sebagai pusat dari proses pendidikan. Dipopulerkan oleh para pendidik humanis seperti Munif Chatib, pendekatan ini meyakini bahwa pembelajaran sejati hanya akan terjadi ketika siswa merasa aman, dihargai, dan dicintai.

Dalam kelas bahasa Arab, yang sering dianggap sulit dan menakutkan, Kurikulum Cinta menjadi fondasi yang krusial.

Prinsip-Prinsip Utama Kurikulum Cinta dalam Kelas Bahasa Arab:

1.      Membangun Hubungan Guru-Siswa yang Kuat: Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga fasilitator dan mentor yang mengenal setiap siswanya secara personal. Guru memanggil nama dengan penuh respek, menanyakan kabar, dan menunjukkan kepedulian tulus. Ini akan meruntuhkan "dinding ketakutan" siswa terhadap pelajaran.

2.      Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif dan Aman secara Psikologis: Kesalahan dalam berbahasa (misalnya, salah mengucapkan 'ain atau keliru dalam i'rab) tidak dilihat sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian alami dari proses belajar. Guru tidak menghakimi, melainkan memberikan umpan balik yang konstruktif dan penuh semangat.

"ممتاز المحاولة! هيا نحاول مرة أخرى" ("Usaha yang bagus! Mari kita coba lagi").

3.      Menemukan dan Menumbuhkan Potensi Unik Setiap Siswa: Setiap siswa adalah "juara" dengan potensinya masing-masing. Siswa yang jago bicara didorong untuk menjadi moderator diskusi. Siswa yang berbakat seni didorong untuk membuat kaligrafi dari mufrodat yang dipelajari. Siswa yang mahir teknologi didorong membuat konten digital berbahasa Arab.

4.      Menjadikan Pembelajaran Bermakna dan Menyenangkan: Guru menghubungkan materi dengan kehidupan siswa. Saat belajar tentang keluarga (al-usrah), siswa diajak berbagi cerita tentang keluarganya. Saat belajar tentang profesi (al-mihnah), siswa diajak berdiskusi tentang cita-cita mereka dalam bahasa Arab. Permainan, lagu, dan aktivitas kreatif menjadi bagian tak terpisahkan dari pelajaran.

5.      Menghubungkan Bahasa Arab dengan "Cinta" itu Sendiri: Guru dapat menunjukkan keindahan dan "cinta" dalam bahasa Arab itu sendiri. Keindahan sastra Al-Qur'an, kedalaman makna dalam syair-syair Arab, atau kelembutan dalam ungkapan-ungkapan doa. Ini akan mengubah persepsi siswa dari bahasa yang sulit menjadi bahasa yang indah dan layak dicintai.

D.Kesimpulan

Pendekatan Pembelajaran Mendalam tanpa Kurikulum Cinta akan menghasilkan siswa yang pintar secara teknis tetapi mungkin kering secara emosional dan sosial. Sebaliknya, Kurikulum Cinta tanpa Pembelajaran Mendalam akan menghasilkan siswa yang bahagia di kelas tetapi mungkin kurang memiliki kompetensi dan daya saing.

Kombinasi keduanya menciptakan ekosistem pembelajaran yang ideal:

Siswa merasa dicintai dan aman (Kurikulum Cinta), sehingga mereka berani untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan mengambil tantangan intelektual untuk mencapai pemahaman yang mendalam (Pembelajaran Mendalam).

Dengan demikian, guru bahasa Arab di Madrasah Aliyah tidak hanya bertugas mengajarkan fi'il dan fa'il, tetapi juga sedang membangun manusia yang kompeten, berakhlak mulia, dan memiliki kecintaan pada ilmu pengetahuan sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT.

CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA PELAJARAN BAHASA ARAB MA BERDASARKAN KEPUTUSAN DIRJEN PENDIS NOMOR 9941 TAHUN 2025

Bahasa Arab merupakan bahasa yang sangat penting untuk dikembangkan, karena selain menjadi bahasa agama, juga berperan sebagai bahasa intern...